Suatu
senja telah mempertemukan kita. Dan kita berpandangan di sana. Aku menatapmu dengan semacam tatapan yang sulit kujelaskan,
dan kau menatapku dengan tatapan yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya, dari
wanita manapun. Jujur saja, saat itu ada sebuah perasaaan yang entah apa
namanya, mampu menggetarkan dadaku.
“Hai, namaku Randi” kataku pada senja itu. Aku memberanikan diri untuk memperkenalkan
diri lebih dulu. Sebenarnya, aku gugup, tetapi aku tak ingin kehilangan momen
bersejarah dalam hidupku—bisa mengenalmu.
“Aku
Yuni,” balasmu, lalu tersenyum. Senyum yang puitis. Setidaknya bagiku.
“Randi
Pratama,” tambahmu, menyebut nama lengkapku dengan suara yang lembut.
Aku
terdiam. Heran, kau tahu nama lengkapku. Aku ingin menanyakan padamu, tapi aku
tak berani. Akhirnya aku diam saja.
Kau
juga diam saja, tak menjelaskan asal usul dari mana kau tahu nama lengkapku.
Lalu
kita memilih sama-sama melayangkan pandangan pada senja, menikmati keindahannya,
menatapnya dengan penuh makna. Sunyi melayang diantara kita. Saat itu, tanpa
kau sadari sesekali aku memperhatikanmu, mencoba melihat sudut padang lain dari
dirimu: senyummu tambah manis dari samping, baris gigimu berseri, matamu
terlihat agak sipit, alis matamu yang melengkung pas untuk matamu—semua itu di
balut dengan senja, ah, aku jadi senyum-senyum sendiri melihatmu.
Lamat-lamat
dari kejauhan senja mulai meredupkan kuning pekatnya, lalu tenggelam dan damai
dalam pelukan bumi.
***
Sejak
saat itu, entah mengapa aku jadi sering memikirkanmu, senyummu membayangi
setiap langkahku, dan suaramu sayup-sayup seperti berbisik dalam
hatiku—meskipun saat itu tak banyak ucapan yang keluar dari dirimu.
Mungkinkah
aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, entahlah, aku belum bisa mempercayai
itu.
Sejak
saat itu pula, aku berubah menjadi
pengingat yang baik, terutama tentangmu: Senyum puitismu, mata indahmu,
alis matamu yang melengkung dan suara lembutmu. Semua itu, entah mengapa selalu
hadir mewarnai hari-hari ku, terutama saat senja menyapa.
Aku
tambah menyukai senja, sejak berkenalan denganmu. Senja, bagiku sebuah karunia
Tuhan yang tiada duanya, ia punya banyak cerita, entah sudah berapa orang yang
terpesona akan keindahan dan kesunyiannya. Entah sudah berapa buah bait-bait
syair lahir sebabnya, mungkin jutaan, mungkin juga miliaran, bahkan, mungkin juga
tak terhingga.
Bagiku
senja menjadi istemwa, sebab ia menyimpan cerita tentang aku dan kamu—kita pada
pertemuan pertama yang indah: mata kita bertemu, senyum kita terurai, sunyi
yang melahirkan udara sarat makna—semua itu di balut dalam senja.
Saat
senja datang, aku selalu merapal do’a-do’a, apa saja, agar senja kembali
mempertemukan kita.
***
...
Hingga
suatu hari, Tuhan menjawab do’a ku. Suatu senja, kita kembali di pertemukan.
Aku tersenyum padamu, kau juga tersenyum, senyum yang manis.
Jujur
saja, sepanjang perjalanan karirku bertemu dengan wanita, aku tak pernah sebahagia
ini.
“Apa
kabar?” tanyamu, mengawali perjumpaan kita. Seperti ada angin rindu yang
menyelinap di balik suaramu.
Aku
berusaha seperti biasa-biasa saja—sok cool.
Tapi, sebenarnya diam-diam aku gugup berada dekatmu, detak jantungku berdenyut
begitu cepat— kembali menggetarkan dadaku, kali ini lebih kencang.
“Baik.
Kamu gi mana?” kataku pendek.
“Baik
juga.” Senyummu terurai. Matamu menyipit.
Seperti
saat pertemuan pertama. Kita kembali sama-sama melayangkan pandangan pada senja
yang perlahan mulai merebahkan diri.
“Kamu
tau kenapa aku menyukai senja?.” Suaramu memecah kristal kesunyian di antara
kita.
Aku
menggelengkan kepala, lalu kembali memperhatikan senja yang mulai pudar.
“Karena
bagiku senja adalah simbol kedamaian dan kebersahjaan. Lihatlah, entah sudah berapa
orang yang mengaguminya, merayunya dengan syair-syair yang puitis, entah sudah
berapa inspirasi-inpirasi lahir sebabnya. Ia mampu lahirkan pelangi kehidupan
ditengah revolusi matahari.” Aku mendengarmu dengan serius.
“Namun
lihatlah, ia tetap damai dalam kesendiriannya. Tepatnya selalau damai, ia
lahirkan keteduhan di langit. Aku ingin seperti senja, hidup dalam kedamaian
dan keteduhan.” Tambahmu.
Aku
lebih banyak diam saja. Membiarkanmu mendominasi pembicaraan kita, sebab aku
ingin lebih banyak mendengar suaramu yang mengalir dari bibirmu.
Ada
sesuatu yang menyelinap dalam hatiku, semacam ada perasaan dekat—seolah-olah
aku mengenalmu sudah beberapa tahun yang lalu. Aku merasa kita lebih akrab.
Namun,
sebenarnya aku masih bingung harus menyapamu: Yun, ah, seperti sebutan orang
korea, aku tak terlalu menyenangi. Yuni, bagus, tapi terlalu formal.
Hmmm...sebenarnya aku berharap bisa menyapamu dengan panggilan “sayang”.:-)
Lalu
aku seperti lelaki entah apa sebutannya: kadang-kadang senyum-senyum sendiri
saat membayangkanmu. Kadang-kadang mengandaikan kita menjadi model vidio klip
atau kita bertemu di suatu tempat, kita berhadapan, lalu diam-diam aku membawa
setangkai bunga mawar yang ku sembunyikan di balik punggungku, kemudian
memberikannya pada dengan cara yang romantis atau membayangkan kita sama-sama
merayakan gemerlap cinta di pelupuk mata kita.
Mungkinkah aku jatuh cinta pada
pandangan pertama? ah, entahlah, aku
tak tahu, sejujurnya aku tipe lelaki yang sulit jatuh cinta. Lebih tepatnya tak
pernah merasa jatuh cinta.
Langit mulai pudar—gelap segera menyergap. Senja kemudian berlalu meninggalkan kita—menenggelamkan matahari di mata kita.
***
... Bersambung

0 komentar:
Posting Komentar