Permulaan...
Mulanya
masih bingung mau diberi judul apa pada tulisan ini: Catatan Hati Selama di AKMIL,
ah, sepertinya terlalu mellow. Catatan Para Lelaki yang di lupakan, hmm... seperti
curhatan para peserta yang laki-laki. Perjalanan Selama di AKMIL, bagus, tapi
terlalu formal. Ya sudah, biarlah tulisan ini menjadi semacam catatan kecil
selama di AKMIL
Sederhana
saja, barangkali sepuluh hari dalam hitungan teknis-matematis selama pelatihan
di Akademi Militer adalah waktu yang cukup lama, tapi terkadang waktu dalam
hitungan teknis-matematis menghianati waktu dalam persepsi. Sebab Sepuluh hari
menjadi waktu yang terasa begitu cepat berlalu dalam persepsi—makna.
Sepuluh
hari sudah berada di Akademi Militer, Magelang, tentu saja menjadi sebuah
perajalanan yang tak terlupakan, tercatat dengan baik dalam hati, melekat dengan baik di langit-langit ingatan.
Sebuah episode perjalan hidup yang memiliki ruang tersendiri dalam hati dan
ingatan dalam hidupku, yang kapan saja aku bisa melihatnya kembali atau hanya
sekedar mengintip dari balik jendela ruang hati yang ku ciptakan—lalu setelah itu semua
rasa bercampur—sedih, bahagia, terharu, bangga, dan lain-lain menjelma menjadi
sebuah kenangan yang terindah.
***
Hari
Pertama...
Setelah
melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya sampai di Stasiun Tugu Jogja,
belum sempat untuk beristirahat, kami langsung di jemput oleh tim pelatih dari
AKMIL, dari sinilah awal mula kami di kenalkan dengan teriakan “Ayo,
cepat-cepat”, “siap gerak” yang akan memenuhi telinga kami dihari-hari
berikutnya.
Kemudian
kami langsung di bawa memasuki trcuk AKMIL dan melaju menuju MABES AKMIL. Bunyi
sirine dan tembakan lampu membelah jalan, para pengguna jalan menepi, layaknya
presiden atau pejabat penting di kawal saat perjalanan—seketika menjadi pusat
perhatian.
Dan dari sinilah aku merasakan hal
pertama: ternyata tak perlu menjadi presiden atau pejabat lainnya untuk bisa di
kawal saat perjalanan.
Selang
beberapa menit, truck tetiba berhenti. Kami di minta untuk turun dan langsung
membuat barisan. Tak jauh di hadapan kami, sebuah gerbang bertuliskan AKADEMI
MILITER. Ah, ternayata kami telah sampai di sebuah tempat yang akan menjadi
rumah kami selama sepuluh hari.
Saat
melangkah memasuki gerbang AKMIL, Inilah saat-saat yang mengharukan sekaligus
membanggakan: Bunyi terompet dan drum bergema, barisan perwira memakai baju
loreng bernyanyi sambil tepuk tangan mengikuti rima musik--seolah menjadi pengiring
setiap langkah kami. Senyum terbit di wajah mereka saat kami memasuki gerbang
Akademi Militer. Nyanyian, tepuk tangan, bunyi drum dan terompet menyambut
kedatangan kami. Saat itu waktu seolah melambat: pelan-pelan aku berjalan, lalu
melihat barisan perwira, senyum-tepuk tangan-nyanyian mereka, ah, tiba-tiba ada
rasa yang membuncah di hatiku, rasa bangga dan terharu memenuhi hati ku, ingin
rasanya berteriak, tapi tak bisa, akhirnya aku tersenyum puas—menumpahkan rasa
bangga dan haru yang tak bertepi.
Konon,
katanya penyambutan semacam ini hanya di lakukan pada saat ada tamu-tamu
penting.
Dan dari sinilah aku merasakan hal
yang kedua: ternayata tak perlu menjadi presiden atau pejabat penting atau
taruna untuk bisa di sambut secara militer.
Hari
pertama, awalnya memang mengharukan, tapi kami sadar setelah menyeberang ke
dalam gerbang AKMIL, inilah hari di mana mula kehidupan pelatihan selama sepuluh hari, awal di mana
semuanya di atur: cara merapikan tempat tidur, cara makan, cara berjalan, cara melapor,
cara hormat dan cara-cara lainnya. Dan tentu saja, waktu yang tak bisa di
permainkan—suda diatur sedemikian rupa: waktu untuk mandi, ibadah, makan dan
lain-lain.
Hari
pertama juga, awal mula aku bertemu dengan sahabat-sahabat yang luar biasa yang
tergabung di Pleton 3 A: Abadi, Aseng, Anfal, Adhit, Tanzila, Jarzie, Ratih,
Puspa, Iva, Risna, Merlin, Subhan, Hasna, Ade, Tata, Hakim, Ratna, Adien, Dini,
Bayu, Sarwindah, Fitria, Ulul, Putri, Vina, Eny dan Fifi. Mulanya malu-malu
untuk saling berkenalan, tersebab karena keterpaksaan, kami harus bisa mengenal
satu sama lain, entah bagaimana caranya hari-hari berikutnya keterpaksaan
berubah menjadi semacam ikatan kebersamaan yang tak perlu semacam
penjelasan-penjelasan.
Hari
Kedua...
Ini
adalah hari di mana kami harus bangun sebelum jam empat untuk mengikuti senam
pagi. Terlambat saja setengah menit, maka siap-siap untuk ambil posisi lalu
kemudian di suruh push up. Begitu untuk keterlambatan seterusnya.
Ini
hari kedua di mana tidak ada yang namanya tidur siang atau istirahat. Dari jam
empat pagi sampai jam 11 malam dipenuhi dengan berbagai kegiatan. Dan saat
inilah kami berusaha melawan rasa kantuk yang menyerang, apalagi saat siang
menjelang.
Tapi
dari sinilah kami bisa mendengar materi-materi yang bagiku sangat menginspirasi,
mendengar dan berkenalan dengan orang-orang hebat, seperti Mayor Jenderal TNI
Sumardi - Gubernur AKMIL, Joseph
Bataona - Direktur PT Indofood
Sukses Makmur Tbk. Hasnul Suhaimi – Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk. Arief
Wana - Ketua Yayasan Karya Salemba Empat.
Begitupun
di hari ketiga dan keempat, kegiatan lebih banyak di dalam ruangan mendengarkan
materi yang luar biasa manfaatnya.
Hari
pertama, kedua, ketiga, adalah waktu yang sangat berat untuk di jalani.
Barangkali belum terbiasa dengan sistem yang di terapkan. Tapi, yah, apa hendak
di kata, tak ada pilihan lain kecuali, “jalani saja”.
Hari
keempat...
Sama
halnya dengan hari-hari sebelumnya, tapi di hari keempat, diam-diam kami mulai
terbiasa dengan cara hidup seperti ini: makan tak berbunyi, makan dengan cepat,
mengikuti prosesi sebelum dan sesudah makan-masuk dan keluar ruangan-sebelum
dan seduah belajar. Tak boleh terlambat saat apapun, tahan terhadap
“teriakan-teriakan” atau bentakan dari pelatih, mandi lebih cepat lagi, berlari
mengejar “waktu”, bangun lebih cepat, berjalan cepat atau lari sambil meneriakkan
yel-yel atau bernyanyi dan lebih tahan untuk ambil posisi.
Hari
kelima...
Hari
kelima ampai ke delapan acaranya berlangsung di medan “perang” untuk belajar
bertahan hidup ditengah keterbatasan makanan—survival. Kami di ajarkan tentang peta, mencari orientsi titik
kompas.
Dan
inilah yang paling membahagiakan—berpetualang mencari titik tujuan dengan
bersenjatakan peta dan kompas. Dan barangkali, perjalanan inilah yang membuat
perkenalan Pleton 3 A berubah menjadi ikatan kebersamaan dan perjalanan ini
pula yang menjadi titik awal kebersamaan dengan pelatih Lukito dan pelatih
Joko.
Memang
kebersamaan sepertinya kadang berawal dari sebuah ketidak mengertian satu sama
lain—lalu memilih fokus pada titik ketidaksamaan, yang berakhir pada perdebatan--pertengkaran.
Barangkali itulah yang di alami pleton 3 A, yang pada langkah pertama berdebat
masalah titik orientasi peta. Tapi, tak apa-apa, di sanalah kita belajar untuk
menyamakan pandangan dan tujuan kemudian menjadi kebersamaan. Akhirnya
perdebatan itu terselesaikan dengan di tunjuk Jarzie menjadi kapten
petualangan. Ah, memang benar, kebersamaan memang perlu ada kepercayaan.
Tersebab kepercayaan pada Kapten Jarzie, petualangan menjadi baik-baik saja,
dan kita menikmati setiap hitungan langkah.
Setelah
itu hari-hari selanjutnya lebih terasa terang—kita tertawa, bernyanyi bersama,
tolong menolong, berbagi, menahan lapar bersama, makan jagung dan ubi singkong
bersama—inilah ikatan kebersamaan yang tak perlu semacam penjelasan-penjelasan.
Saat survival di medan “perang” aku
merasakan hal yang ketiga: siang kepanasan, kalau malam kedinginan, menjadi tak
apa-apa.
Berbagai
jenis hukuman atas pelanggaran menjadi bagian dari gaya hidup. Tentang hukuman,
anehnya, kami selalu bisa menemukan cara
untuk tertawa atau tersenyum—bahagia di tengah hukuman: tersenyum atau tertawa
masuk kolong meja saat makan, tersenyum atau tertawa saat “tawaf” menggunakan
spray kasur, tertawa atau tersenyum di saat push up, tertawa atau tersenyum di
saat tiarap saat makan, tertawa atau tersenyum di saat merayap, ya, semuanya seolah
tak terjadi apa-apa. Ah, barangkali benar, di tengah kesedihan atau penderitaan
Tuhan selalu menyelipkan kebahagiaan di sana. Kesedihan atau penderitaan adalah
hadiah—untuk kemudian Tuhan hibur kita dengan cara yang paling membahagiakan.
Kami
seperti menjadi bagian dari Akademi Milier: diajak menjelajah meseum Abdul
Djalil, mengelilingi gedung-gedung AKMIL. Bertemu, makan bersama, diskusi dan
menikmati malam kebersamaan dengan taruna.
Dan disaat bertemu dengan taruna
aku merasakan hal yang keempat: saat-saat itulah para lelaki pelatihan di
lupakan begitu saja dan dicampakkan begitu saja, seolah-olah tak pernah ada
oleh para peserta yang perempuan.
***
Hari
demi hari kami lalui, menit ke menit saling berkejaran, detik terus berlari
mengejar hari yang ke sepuluh, saat di mana kita harus berpisah dan pergi
meninggalkan tempat yang luar biasa.
Hari
kesepuluh...
Detik
pada akhirnya mengantarkan kami pada hari terakhir, waktu untuk saatnya pergi
melanjutkan langkah. Inilah hari dimana langkah kaki terasa begitu berat untuk
pergi, rasa sedih mulai menyelinap, lalu membentuk awan tebal yang menitikkan
air di tebing pipi.
Setiap
pertemuan selalu ada perpisahan. Dari sekian jauh perjalanan yang kami lalui,
barangkali inilah perjalanan yang terberat. Melihat kembali wajah-wajah pelatih
yang selama ini mendidik kami. Melihat kembali wajah-wajah sahabat-sahabat satu
pleton—seketika membuat tangis pecah dan tak mampu di redam.
Saat harus berpisah dari AKMIL aku
merasakan hal yang kelima: lambaian tangan atau salam perpisahan seperti tak
punya perasaan.
Akhirnya,
kami harus berpisah dan melanjutkan perjalanan yang lain...
***
Begitulah,
sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Tentu saja ada banyak hal yang
didapatkan dari pelatihan Indofood Leadership Camp I-II dalam mempersiapkan
kami menjadi pemimpin masa depan.
***
Andai
saja waktu berjalan seperti sebuah durasi dalam vidio: kita akan bisa mengatur
sesukanya, kita bisa kembali pada waktu yang kita inginkan. Seperti kembali
pada permulaan, mempercepatnya atau memperlambat atau kita bisa mengaturnya
agar tak sampai pada endingnya. Kita bisa memilih untuk kembali pada
momen-momen indah yang kita inginkan. Dan andai saja sperti itu, aku akan memilih
untuk kembali pada momen-momen ini: saat pertama kita memasuki gerbang AKMIL yang
di sambut dengan penuh haru. Mengambil posisi untuk
push up. Berlari mengejar waktu. Makan tanpa suara. Bertemu kaliam yang pada
mulanya malu-malu untuk saling berkenalan, lalu berubah menjadi sebuah ikatan
kebersamaan .Memasuki kolong meja saat makan. Merayap dengan punggung.
Mendengar kata-kata "ada yang senyum-senyum pelatih" "ada yang
ketawa-ketawa pelatih” dari pelatih Lukito dengan suara yang lucu. Kita tertawa
bersama di tengah “siksa”. Melihat
kembali Aseng menjadi patung pancoran. Mendengar kata-kata "guys mari kita
beri apresiasi buat pleton 2 A," dengan suara yang unik dari si Adit.
Diam-diam kita berkomplotan mengambil buah kelapa muda saat mengambil logistik..
Dan semua momen yang tak bisa disebutkan seluruhnya.
***
Jika
kalian ingin kembali pada momen itu dan disaat kerinduan menyelimuti kalian,
kepinginan momen kebersamaan bermunculan di langit-langit ingatan. Kapan saja,
kita bisa mngulang itu semua. Kita bisa kembali pada momen itu. Tak percaya?
Baiklah, ikuti aku ya. Pejamkan mata kalian, lalu munculkan momen-momen yg kalian
inginkan di langit-langit ingatan. Ketika momen pertama yg kalian munculkan,
bayangkanlah ia tersenyum padamu. Ketika momen kedua, rasakanlah sesuatu
merambat dalam hatimu, ketika sampai pada momen ke tiga sesuatu mendesir gamang dalam setiap sel rasamu, begitupun ketika
kalian munculkan momen-momen selanjutnya, pelan-pelan rasakanlah ada sesuatu
yang bergerak di bibir kalian--sebuah lengkungan indah--sebuah senyuman. Ketika
sampai pada momen terakhir: ku ucapkan selamat berkenalan dengan rasa syukur.
Sebab, Tuhan telah memberikan anugrah terindah dalam hidup kita--bisa saling
mengenal, tertawa bersama, menderita bersama dan bahagia bersama.
Kapan
saja, kita bisa bersama, meski di pisahkan oleh ruang, jarak dan waktu, sebab
jauh di mata dekat di hati. Kapan saja kita bisa mengulang momen itu, meski
hanya sebatas bayang-bayang.
Tapi
dari smua itu, percayalah, perpisahan adalah nama lain dari sebuah pertemuan
yang baru. Semoga saja.

0 komentar:
Posting Komentar