Dekat



Adam
Hallo, namaku Adam Putra, kalian bisa panggil aku Adam saja. Aku ingin bercerita sesuatu yang, aku pun tak benar-benar bisa mengerti mengapa bisa terjadi. Ini tentang aku dengan seorang teman. Namanya Aila. Sebenarnya, kami sudah kenal lama. Aku tahu tentangnya, dia tahu tentangku—kami mengenal satu sama lain, lebih tepatnya aku dan Aila telah lama berteman.

Antara aku dan Aila barangkali hanya sebatas teman biasa, anggap saja begitu. Kami sering ngobrol banyak hal, apa saja yang bisa kami bincangkan. Sesekali kami bertemu untuk sekedar saling mendaftar senyuman.
Saat ini kami sudah sangat jarang bertemu tersebab beda tempat kuliah, diantara kami dipisah oleh dua pulau, aku di Palembang sedangkan dia di Bogor. Sesekali kami hanya bertemu via suara. Kadang-kadang juga ngobrol di ruang maya: line atau bbm.

Singkat cerita, sauatu hari aku mengajaknya untuk jalan-jalan disebuah tempat, tanpa disangka ia mau. Kami janjian untuk bertemu, lalu bersama-sama pergi: akhirnya aku dan dia dipertemukan kembali. Di tempat itu kami menikamti alam dari ketinggian, hamparan kehijauan yang memanjakan mata, dan menikmati udara kesejukan. Sambil sesekali juga berfoto bersama.

Sejak pertemuan itu, entah mengapa ada bayang-bayang yang selalu mengikutiku: sinar matanya, senyumnya, suaranya. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi padaku.

Waktu terus berlalu, hingga kami dipertemukan kembali dengan keadaan yang berbeda, dengan jarak waktu yang sangat lama. Kami sudah janjian untuk bertemu, untuk kemudian memnintanya mengajakku jalan-jalan keliling Kota Bogor. Saat bertemu biasa saja: tak ada dada yang bergetar.

Pertemuan memang telah direncanakan, tapi perjalanan tak pernah kami duga, tersebab dia jadi bisa keliling Bogor naik angkot dan jalan kaki. Terus tanpa perencanaan apapun bisa sampai ke Bandung. Empat hari memang waktu yang singkat, tapi senyumnya, tawanya, suaranya, mata sipitnya selalu terkenang: Hey jangan-jangan dia telah melakukan perampokan paling berbahaya ke dalam hatiku.

Matanya mengalihkan duniaku. Senyumnya menyinari hatiku. Suaranya bagai senandung yang selalu ku rindu. Lalu tentangnya, aneh tiba-tiba segala tentangnya aku suka.

Baiklah aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa pelan-pelan ternyata aku bukan lagi jatuh cinta, tapi jauh dari itu, aku jatuh hati padanya. Barangkali ia sosok perempuan yang selama ini aku cari untuk mengisi hati ini yang telah lama kosong. Ketika pertama kali mengenalnya, sejujurnya aku tak menyukainya. Physically dia biasa-biasa saja, ada yang lebih cantik darinya, tapi ku akui dia memang manis. Tetapi semakin dekat aku mengenalnya, semakin aku menemukan kecantikannya. Bukan hanya di dalam, ia juga rupanya cantik di luar. Aku mengaguminya, perasaan yang belum pernah kumiliki pada perempuan lain selama ini. Dari semua perempuan di dunia, Aila barangkali bukan yang paling cantik, bukan pula yang paling baik, tetapi bagiku mungkin ia yang paling tepat. Aku meyakininya, seperti perasaan yang selalu membuatku ingin dekat dengannya.

Aila
Hai... Aku Aila. Tadi malam Adam nelpon, seperti biasa kami mengobrol banyak hal dan tanpa diduga di ujung perbincangan dia menyatakan perasaanya padaku bahwa dia memiliki rasa. Aku bingung mau jawab apa, aku kaget dengan pernyataanya.

Dua hari yang lalu, kami ketemuan di Bogor. Dia ada agenda di sini, ya, aku pikir-pikir kenapa gak sekalian bawa dia jalan-jalan.

Sebenarnya, aku telah lama kenal Adam. Dia baik dan dari sudut pandang tertentu dia juga manis. Meskipun kami dekat, sejauh yang ku tahu dia tak pernah macam-macam. Tapi, kadang-kadang Adam itu ngebetein, gak asyik, kurang humoris, agak pendiam, kalau ngobrol selalu kebaikannya aja yang diomongin, tapi tak bisa ku pungkiri dia itu ngangenin.

Saat ini yang kubutuhkan adalah seseorang yang sederhana. Segala kesederahanaan yang membuatku tak bisa melepaskan mata. Bukan seseorang yang hanya bisa memberikan kebahagiaan yang aku cari dalam hidup ini, tapi seseorang yang mau berbagi kebahagiaan dan kesedihannya bersama.

Kini, dekat denganya adalah kebahagiaan sunyi yang membuatku berani bermimpi.

Rumah Kata, 2-10-2015

0 komentar:

Posting Komentar