Cinta Dalam Diam



Aku pertama kali melihatmu disebuah acara pertemuan yang kita hadiri bersama dan tak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Biasa saja, seperti jam tangan silver yang melingkar di tangan kirimu atau jilbab coklat yang kau kenakan atau rok panjangmu yang bewarna hitam—kau terlihat sederhana. Mungkin itulah yang membuat mataku sepersekian detik berhenti melihatmu yang duduk tak jauh dari tempatku.

Sekali lagi, aku mengedarkan pandanganku melihat wajah-wajah baru yang menghadiri acara pertemuan pertama antara penerima beasiswa dari sebuah yayasan.

Entahlah, aku juga tak mengerti, mengapa selama acara sesekali aku memerintahkan kedua bola mataku bergerak kearahmu untuk melihat detil dirimu—sesekali kau nampak serius melihat presentasi yang disampaikan, sesekali kau terlihat mengerutkan dahi atau menopang dagu pada tanganmu atau kau terlihat sesekali secara pelan-pelan membuka handphone di tasmu atau sesekali kau juga tersenyum.

Tunggu dulu, aku merasakan waktu seolah berhenti untuk beberapa detik ketika kau kembangkan senyummu yang puitis. Uraian senyummmu yang putis—melengkungkan senyumku dengan sendirinya. Tapi juga tak jatuh cinta pada senyuman pertama.

Acara yang sama-sama kita ikuti adalah pertemuan pertama semua penerima beasiswa dari sebuah yayasan dan tergabung dalam sebuah organisasi berbentuk paguyuban: selamat datang di sebuah organisasi paguyuban yang menawarkan lotalitas tanpa batasa mengabdi untuk bangsa.

Kali ini aku melihatmu dari jarak yang dekat, sebab waktu itu semua penerima diberi kesempatan untuk berkumpul sesama divisi, deeg, sedikit bergetar dalam dadaku,  benar saja; aku dan kamu tergabung dalam divisi yang sama. Kurang lebih kita saling berhadapan, sesekali mata kita bertemu, lalu berpaling. Dan tak jatuh cinta pada tatapan pertama.
*** 
Jarum waktu yang terperangkap dalam arloji terus berotasi—menunjuk angka-angka secara bergantian, hari-hari berjalan sesuai dengan hukumnya.  Dua hari-lima hari-sembilan hari, kita jadi sering bertemu di Rumah Paguyuban walaupun hanya sekedar saling mendaftarkan senyuman.

Entahlah, di sana, aku mulai menemukan kebiasaan baru: menantimu, lalu melihat dari kejauhan kamu berajalan dari ujung gang ke Ruma Paguyuban bersama tas pink yang kau sampirkan di punggungmu atau memperhatikanmu di balik tingkap kaca atau mencuri-curi waktu yang tepat untuk memotret dalam ingatan saat senyum puitismu terbit.

Pada satu titik lain, aku tahu kamu juga beberapa kali memperhatikanku. Di teras Rupa, terkadang aku melihat matamu dari balik tingkap kaca diam-diam menatap ke arahku, beberapa kali kita saling tukar pandangan untuk kemudian saling berpaling. Aku pura-pura melihat kejauhan, kau pura-pura kembali membuka buku yang kau pegang—kita sama-sama berpura-pura.

Sampai pada titik ini sejujurnya, aku sedikit jatuh cinta padamu.
*** 
Seiring berjalannya waktu, membuat seringnya kita bertemu, aku mulai berpikir keras untuk menemukan sebuah kalimat atau sapaan yang bisa ku katakan padamu—kemudian berlanjut pada percakapan yang panjang, harapku. Sebab selama ini kita tak pernah mengobrol. Aku pikir kita masih malu-malu untuk saling berbicara, hal itu aku tahu dari caramu dan akupun begitu.

Barangkali inilah cara pertama mengehentikan waktu: mencari kata-kata untuk mulai bicara padamu.
*** 
Sore itu, langit diselimuti mendung tebal, barangkali akan segera hujan, lalu ada sebuah suara yang menyapa dan itu kamu, “bang Dani.” panggilmu, aku menoleh kearahmu, “Dwi pulang duluan ya” katamu tersenyum, matamu menyipit. Deg, waktu seolah berhenti untuk beberapa detik, aku tak bisa berkata apa-apa.

Aku benar-benar ingin membalas ucapanmu. Tapi tak satupun kata yang meluncur dari lisanku. Aku hanya mengagguk dan tersenyum. Beberapa detik kemudian kamu berjalan, meninggalkanku yang tersihir oleh senyuman puitismu.
*** 
Di hari yang lain, entah ada angin apa, entah kekuatan apa yang merasuki tubuhku, aku tiba-tiba dengan beraninya menghampirimu yang tengah membaca buku diteras Rupa, sejujurnya aku masih bingung mau mulai dari mana, tersbersit begitu saja, ”Lagi baca buku apa wi?,” kau lalu menutup buku dengan sigap, “lagi baca novel bang” katamu tersenyum.

Sudah, begitu saja.

Dan aku tahu cara kedua untuk menghentikan waktu yang berdetak di hatiku: memulai menyapamu.
*** 
Baiklah, Setelah puluhan peristiwa yang terlewati, setelah beberapa kali detak hatiku berhenti, belum lagi tanganku yang basah oleh uapan keterpakuan. Aku mulai menerka-nerka barangkali aku sedang jatuh cinta. Ya, tentu saja, ya, aku sedang jatuh cinta, meski bukan pada pandangan pertama.

Tapi mungkin aku tak akan mengungkapkan perasaanku padamu. Sebenarnya aku ingin, tapi ku pikir itu tak perlu. Seperti kata Fahd Pahdepie “Mungkin beberapa jenis cinta ditakdirkan untuk tak berahir dimuaranya.” Ia hanya perlu ada, begitu saja, tak meminta apa-apa lagi.

Semoga suatu saat kita bertemu lagi. Di mana saja. Aku mencintaimu. Dwi, tapi aku lebih bahagia mengandaikanmu dari jauh—dengan semacam perasaan yang tak perlu penjelasan-penjelasan.
***

Semoga kau memiliki rasa yang sama—juga mencintaiku.  

Semoga saja:-)

0 komentar:

Posting Komentar