Titip Rindu Buat Ayah


Seperti biasa. Ritus malam yang kulakuan adalah memandangi purnama dan bintang yang selalu diselimuti gelap, kemudian merasakan angin malam yang perlahan menyentuh lembut kulitku, tiupannya yang sesekali melambaikan mawar merah depan rumah, lalu melemparkan senyum keharuman padaku.

Dengan diiringi sebuah lagu apa saja.

Terkhusus malam ini, purnama nampak mengeheningkan diri, angin bertiup perlahan—mendesir manja dalam lekukan kulit. Aku terdiam—terpaku akan pesona malam ini. Sebuah meditasi sempurna untuk malam ini. Gelap malam, angin, rembulan, bintang dan awan membentuk udara melankoli—membawaku terbang pada episode masa lalu, memkasaku menyusuri sebuah slide masa lalu di langit-langit ingatan.

Sebuah slide masa lalu terus berubah dalam ingatanku. Duss, aku berhenti pada sebuah slide yang menghadirkan sesosok yang selalu punya tempat tersendiri dalam ingatan dan hatiku, sesosok yang pertamakali membisikkan kedamaian adzan.

Lamat-lamat sebuah syair dari Ebit G Ade “Titip Rindu Buat Ayah” meliuk-liuk pilu dalam lengkungan telinga, memunculkan sebuah lukisan wajah inpiratif dalam ingatan.

Begini syairnya...

Di matamu jelas masih tersimpan selaksa peritiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras namun kau tetap tabah
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Engaku telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia

Ayah dalam hening sepi ku rindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekerang banyak menanggung beban orang

Lamat-lamat masih terdengar suara merdu Ebit G Ade—seolah menjadi nada pengiring tayangan slide masa lalu yang berbah-ubah di langit-langit ingatan, ku buka lebih jauh sebuah slide yang menayangkan sebuah wajah yang tak mungkin ku lupakan, dia punya tempat tersendiri dalam ingatan dan hatiku yang bahkan tak kan terhapus.

Aku hadirkan seluruh jejak perjalanan bersamanya—wajahnya terlihat begitu nyata dalam layar ingatanku. Yang saat ini wajahnya terlihat mulai layu, benturan dan hempasan terpahat jelas di keningnya, keriput tulang pipinya mulai kelihatan, bahu yang dulunya kekar legam terbakar matahari kini kurus dan agak terbungkuk, namun satu yang ku tahu semangatnya tak pernah pudar meski langkahnya kadang gemetar.

Sebuah layar besar menampilkan; wajah, senyum, amarah, kepedihan, kasih sayang, kebahagiaannya, semua hadir, tentang dia yang ku sebut “Pak”—pembuka jalan kehidupan.

Ya, dia Ayahku, kami sekeluarga memanggilnya “Pak”, sebuah sebutan kesayangan kami padanya, barangkali agak kampungan atau terdengar sederhana, yah, begitulah kami, ayah kami selalu menenamkan kesederhanaan dalam hidup kami—pembuka jalan hidupku.

Ayah dalam hening sepi ku rindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekerang banyak menanggung beban orang

Menulis kembali kenangan masa lalu butuh sebuah keberanian. Banyak pintu ruang ingatan yang tak berani aku buka, karena melankoli yang muncul bisa meledak dan tak ada kekuatan diriku meredamnya.

Ayahku bernama Maramis, kami memanggilnya dengan sebutan “Pak”, aku tak tau pasti tanggal dan bulan berapa ayahku lahir tapi yang jelas umurnya sudah menginjak renta, kurang lebih sudah 68 tahun.

Dia seorang pegawai negeri sipil biasa, bekerja sebagai pegawai SD atau penjaga SD atau orang sekitar menyebutnya sebagai pelayan sekolah. Hampir setiap hari, sebelum mentari menerbitkan senyumnya, sebelum embun pagi menyirami rerrumputuan, dia telah menyeberang pintu rumah dengan membawa sekumpulan kunci—membuka pintu sekolah, membebaskan jendela yang saling menghimpit dengan mengembangkan sayapnya, menyusun kembali kursi yang berserakan, membersihkan lantai yang kotor, atau menyirami taman-taman sekolah.

Bersahabat dengan pintu sekolah, barangkali membuat ayah belajar membuka pintu keihklasan menghidupi 5 anaknya ditengah ekonomi yang serba cukup, membuka sayap-sayap jendela, mengajarkan ayah mekmbentang sayap harapan dan impian pada anaknya—berharap nasib anaknya tak sama dengan dirinya...

***

Ayahku punya sistem sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Ayah sangat keras dalam mendidik kami, tak tanggung-tanggung dia layangkan tangannya pada wajah kami, dia tempelken cubitnya yang pedih kulitku, jika kami berbuat salah.

Hmmm...barangkali, belum saatnya aku membuka lembaran itu, bukan karena pedih, bahagia atau apapun itu, hanya saja aku belum berani menyentuhnya. Suatu waktu, jika Tuhan mengizinkan, aku akan kembali membukanya, menuliskan semuanya.

Tapi, siapapun kita saat ini, jangan pernah lupa, ada peran seorang ayah membawa kita pada posisi saat ini. 

***

Ayah dalam hening sepi ku rindu
Untuk menuai padi milik kita

Dusss...

Angin masih berhembus perlahan, melayangkan kerinduan mendalam pada ayah. Aku rindu kata darinya “yud, kalau ada uang dihemat-hemat” atau “rajin-rajin kuliah” atau “ikut pak ke ladang ya?” atau “jangan sekali-kali berbohong ya”.

Untuk ayah, kan kutitipkan salam rinduku padamu lewat do’a dan sujudku... :-)

Kota Iman, 17 Oktober 2014.

1 komentar: