Hari
ini usia saya genap 21 tahun. Saya bisa memanfaatkan hari ini untuk bercerita
tentang apa saja dari perjalanan hidup. Saya bisa bercerita tentang Mandira,
begitu sebutan sahabat imajniasi saya atau tentang ayah dan ibu saya atau apa pun
saja.
Hari
ini saya ingin bercerita tentang sebuah tempat yang tak terlupakan, tempat
dimana saya lahir, tumbuh dan besar disana, nakal dan “gila” di sana.
Yang
tak terlupakan, sebenarnya sebuah judul yang terinspirasi dari tulisan Fahd
Pahdepie yang berjudul “yang tak tergantikan”, seseorang yang barangkali secara
tidak langsung mempengaruhi tulisan saya, cara saya berpikir, dia
“menghidupkan” tindakanku mealalui tulisannya yang sederhana, bermakna,
ispiratif dan menyadarkan.
Hari
ini minggu, 5 oktober 2014. Waktu barangkali hanya satuan angka-angka yang tak
bermakna jika kita hanya memandangnya dari kalender atau jarum jam yang
bergerak dalam arloji.Waktu hanya durasi. Dan saya telah mengulang-ngulang
tanggal kelahiran saya untuk kedua puluh satu kalinya. Tetapi itu waktu mati,
apa gunanya waktu mati jika tak dimaknai dengan waktu hidup? Waktu hidup yang
tak tergantikan, begitu kata bang fahd pahdepie.
Ya,
barangkali perputaran jarum jam yang terperangkap dalam arloji hanyalah “waktu
mati” yang jika tak dimaknai, waktu hidup adalah waktu yang dimaknai dan yang
terekam dalam ingatan yang dikeluarkan.
Saya
membuka sebuah pintu dalam kamar ingatan saya, memasuki waktu hidup saya.
Selalu ada sebuah tempat yang tak terlupakan. Selalu ada kata desa semurup,
begitu nama tempat yang tak terlupakan, sebuah desa kecil di Kerinci, Jambi.
Dia
melekat dalam tubuhku, mengakar dalam ingatanku. Di sanalah saya dilahirkan,
besar dan tumbuh disana. Di sana aku berproses menjadi kedirian saat ini,
disana lah aku memulai memubuka gerbang impian.
Sebenarnya
ayah dan ibu bukan asli Semurup, mereka asli dari Pondok Tinggi sebuah daerah
yang cukup jauh, dikarenkan ayah dapat tugas menjadi pegawai SD atau orang disekitar
saya menyebutnya sebagai pelayan SD atau penjaga SD yang lagi beruntung dapat
rumah dinas sederhana.
Di
sanalah aku memulai kehidupan, aku menangis pertama kalinya ditengah ketidak
sadaranku, ditengah jeritan ibuku-ditengah kecemasan ayah—aku dilahirkan disana,
di sebuah rumah yang dikelilingi gerbang sekolah dasar tua. Saya dan semua
kakak serta adik saya lahir dan tumbuh disana.
Sehari-harinya
saya membantu orang tua menutup-membuka jendela dan pintu sekolah, merapikan
meja dan bangku sekolah, menyapu lantai sekolah atau membuang sampah, saya
melakukan apa yang biasa orang tua saya lakukan—hal ini juga dilakukan oleh
saudara saya.
Pahit,
manis, dingin, panas, badai, dan kerasanya kehidupan—semuanya ada di Semurup.
Saya buka sebuah jendela sekolah—seolah saya sedang membuka pintu jendela impian, sebab di sanalah saya mulai melihat impian di balik tingkap-tingkap jendela, membuka pintu harapan yang tak bertepi, memandangi bayangan senyuman masa depan dilangit-langit ruangan, melihat mozaik perubahan dari warna-warni kehidupan di sana.
Di
sana saya merasakan kubangan sawah, berkelumur dengan lumpur, mencari hiburan
dengan memancning belut di persawahan, berkeliaran menyusuri pematang-pematang
sawah mencari lubang tawa—aku dan teman-teman sekitar rumah seringkali pergi
memancing belut, bersenjatakan pancing-cacing tanah-topi-baju kumal-berlari
menantang hari(hujan-panas)—berburu hewan licin, ada kebahagiaan kurasakan disana.
Di
sana saya tumbuh dengan cuaca lingkungan yang liar. Saya tawuran, merokok dan
ada lagi yang lebih parah--barangkali tak pantas dilakukan.Yah di sanalah semua
kehidupan berawal.
Kerasnya
kehidupan di sana membuatku mudah menghadapi kehidupan saat ini, badai yang di sana
membuatku belajar berlindung dan bertahan saat ini, tangis yang kurasakan di
sana berakhir tawa yang kurasakan saat ini, kersanya kehidupan di sana membuatku
lebih mudah mengarungi kerasanya saat ini, kesalahan-kesalahan masa lalu
membuatku belajar untuk kebaikan saat ini.
Semurup
sebuah tempat yang tak terlupakan.
Barngkali
ada saatnya saya akan membuka semuanya, sebab saat ini saya sedang megumpulkan
keberanian untuk membuka setiap lembaran untuk saya tuliskan semuanya pada
kalian. Ini hanyalah serpihan-serpihan masa lalu yang masih membekas, tertanam
dengan baik dalam ingatan, yang tak telupakan, yang pada saatnya nanti jika
Tuhan mengizinkan akan menjadi sebuah karya.
Oh, ya, setelah
ayah pensiun, tepat pada saat saya memasuki semseter 2 kelas 1 tahun 2008, saya dan
orang tua pindah ke Pondok Tinggi tempat asli saya.
***
Hari
ini udara kota Padang terlihat mendung, pesona matahari ditenggelamkan oleh sisa
hujan, sudah beberapa hari ini hujan terus membasahi daratan Kota Padang, tapi
semuanya tercerahkan oleh ucapan selamat ulang tahun dan do’a dari teman-teman.
Untuk
kali ini yang paling spesial adalah ucapan dari salah satu kakak saya Anggia
Marina, ucapannya mendebarkan hati, mengurai senyumku,. karena seingat saya ini
adalah kali pertamanya mengucapkan selamat ulang tahun. Sederhana “selamat ulang tahun ya om, semoga semakin
barokah dan lulus kuliah tepat waktunya” ucapnya sederhana .Terima kasih
Uni Anggi, engkau adalah salah satu energi bagiku, semoga suatu saat nanti saya
bisa membalas kebaikanmu dan keluarga kecilmu selama ini.
Untuk
udaku Dendi Mantana, terima kasih nasihat-nasihat kebaikanmu selama ini, buat
uda Yockie Apriodi terimkasih telah mentansfer tiap bulannya—semoga suatu saat
nanti giliran saya yang akan mengatakn “da
uang udah yuda kirim ya”, semoga saja. Buat adikku rajin-rajinlah belajar
jangan lakukan kesalahan apa yang telah kakakmu lakukan selama ini.
Untuk
Pak dan Mak, terima kasih masih setia bersamaku—mengajarku, mendidikku,
menasehatiku, terimkasih untuk kasih sayang yang telah kalian curahkan untukku,
tak banyak kata yang bisa ku ucakan, semoga saja suatu saat nanti aku bisa
menceritkan perjuangan kalian dalam menghidupi kami.
Untuk
kalian, terima kasih telah turut membaca catatan ulang tahun saya.
Tak
ada yang perlu di rayakan, tak ada lilin yang perlu ditiupkan, karena semuanya
akan sirna jika kita tak maknai, ulang tahun hanyalah perputaran tanggal,
pergantian waktu yang jika tak dimaknai akan “mati”, ulang tahun kali ini
menyadarkan saya untuk segera “menghidupkan waktu” yang berlalu dengan sebuah
karya.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus