![]() |
| Ilustrasi |
Di
sepertiga malam yang berselimut kesunyian. Hatiku tiba-tiba ingin menuliskan
sebuah permintaan yang tiada habis-habisnya. Permintaan yang selalu muncul
disetiap doa-doa kecil ku.
Ketika
aku menulis ini, tak terasa ada air yang pelan-pelan mulai membasahi
tebing-tebing pipiku—jatuh menggenangi kertas kusam ini, melintaskan
bayang-bayang kenangan masa lalu, bagai bentangan sajadah panjang perjalanan,
yang ikut menjadi saksi perjalanan panjang ku ini. Pada kertas kusam ini
mungkin aku dapat bercerita Ya... ini lah teman sekaligus tempat untuk
mencurahkan semuanya.
***
14
Februari 1997 adalah waktu kelahiranku—saat di mana kali pertama ayah
membisikkan kaliamat-kalimat Allah di lengkung telingaku. Saat kali pertama ibu
mendekapku dengan kehangatan kasihnya.
Waktu
terus berganti, detik-detik berguguran melayukan dedaunan, tanpa terasa,
sekarang aku kembali bertemu dengan tanggal 14 Februari di tahun 2015 ini, artinya
sudah 18 tahun telah aku lalui. Terlalu banyak kesalahan-kesalahan yang telah
ku perbuat selama ini.
Dulu
saat kecil aku bisa mendengar suara ayah, meski tak persis bisa ku ingat. Meski
tak tahu bagaimana senyum ayah ketika menggendongku atau menenangkanku saat aku
menangis tengah malam.
Itu
dulu sekali, saat aku masih sangat kecil dan belum tau apa-apa. Ayah pergi duluan
menghadap Tuhan saat aku masih berumur dua tahun. Hanya dua tahun aku merasakan
keluaraga yang utuh: Ayah, Mama, Kakak.
Sebenarnya
aku tak ingat akan semua tentang ayah: senyumnya, rupanya, matanya—semua hal
tentang Ayah. Aku masih sangat kecil untuk bisa mengingat itu semua. Dan saat
ini, hanya foto yang dapat ku lihat—mencoba merasakan kehangatan pelukan yang
dulu pernah ia beri atau mencoba memunculkan suara-suara Ayah. Tapi tetap saja,
aku tak bisa merasakan itu semua. Sebab dulu masih sangat kecil, lembaran
ingatan belum bisa untuk menulis apa-apa.
Terkadang
aku merasa iri pada teman-teman yang masih diberi kesempatan berkumpul dengan
orang tua yang utuh. Aku juga ingin, apa yang aku kerjakan, ayah selalu
menyemangatiku. Aku juga rindu, saat aku ingin pulang ayahlah orang pertama
membuka pintu, saat aku terjatuh ayahlah yang pertama membangkitkanku, saat aku
tersesat ayahlah yang pertama mengingatkanku, saat aku bersedih ayahlah yang
menghiburku.
“Nak, kamu pengen cerita apa malam ini?” Ah,
aku juga mau mendengar cerita ayah.
“Tidak nak, ayah tidak akan
menceritakan tentang kelinci yang licik atau menyamangati kura-kura dalam lomba
lari.”
“Terus ayah mau cerita apa hari
ini?” aku ingin sekali menanyakan padanya dengan rasa penasaran.
“Ayah akan membawamu ke negeri seberang,
negeri yang katanya dulu dipimpin seorang yang agung dan mulia”
“Nabi kita nak—sang utusan Alam
semesta. Ia lah yang membentangkan semesta hikmah, dia adalah Muhammad.”
Jawab ayah dengan lembut. Ah, tapi itu
hanya bayang-bayang.
Mungkin
aku salah satu anak dari jutaan anak yang tidak beruntung: hidup tanpa
bimbingan seorang ayah. Tapi, mungkin juga aku salah satu anak yang beruntung
sebab dengan tanpa ayahlah aku bisa memliki seorang Ibu sekaligus menjadi
“Ayah” untuk ku.
Ya,
dia ibuku. Seseorang yang selalu mengalirkan kasih sayangnya padaku. Seseorang
yang amat ku sayang. Wanita yang selama ini menemani dan membimbingku selama
perjalanan.
Dia
wanita yang tegar—kuat dalam segala hal, sebab selama ini aku tidak pernah
melihat ibu menangis. Dia berjuang menghidupiku dan kakakku, membalik
tanah—mencari rezeki. Sepertinya, apapun yang aku lakukan tak mampu membalas
segala yang ia berikan untukku.
Aku
tahu, ibu juga menyimpan kesedihan yang teramat dalam, apalagi melihatku yang
harus di tinggalkan seorang ayah disaat aku membutuhkannya, tetapi itulah ibuku,
ia selalu berusaha seolah tak terjadi apa-apa.
Saat
aku bertanya padanya tentang ayah, ibu selalu berkata, “Saat rindu dengan papa, jangan nangis, ambil wudhu, baca Alquran, dan
doakan papa. Mudah-mudah papa bahagia di sana melihat anak-anaknya mendoakannya.”
Teruntuk
mereka, aku selalu berusaha menjadi dan melakukan yang terbaik buat mereka. Aku
ingin membuat ibu dan ayah yang di alam sana bangga dengan prestasiku, menjadi
anak yang shalehah, lalu berbakti pada ibu. Tapi, tetap saja, apa yang telah
aku lakukan belum bisa membalas apa yang telah mereka berikan untukku.
Di
tanggal lahirku kali ini, tak perlu ada
kue atau semacam apapun. Aku hanya berdo’a pada Tuhan, “Tuhan, jaga mamaku baik-baik ya. Aku sayang dia.”
***
Sebelum tanggal 14 feburari, saya mendapat chat dari teman yang tak mau di sebutkan namanya, dia sudah saya anggap sebagai adik sendiri, itu pun jika tak berlebihan. Dia seorang perempuan.
Malam
itu saya mendapat chat darinya, “Asslmkum
kak Yuda,” dia memulai chat di BBM, “saya
boleh minta tolong gak kak?”. Tak butuh waktu lama, jari-jemariku dengan
lincah menyentuh huruf di layar Hp, “Walaikumsalam.
Boleh dek, mau minta tolong apa?” saya penasaran, sebab tak biasanya dia
minta tolong pada saya, “Hmmm... saya minta
tolong untuk edit tulisan saya, bisa gak kak?.” Alis mata kiriku
terangkat—bingung dengan sedikit terkejut, kenapa dia minta bantuan saya untuk
mengedit tulisannya, padahal saya bukan penulis hebat—hanya seorang yang sedang
belajar, “edit tulisan apa?” kata
saya penasaran. “Hmmm... ini kayak
catatan di penghujung 17 tahun kak” ujarnya. “Hmmm... ya sudah kakak usahain ya, kirim aja tulisannya,” pintaku. “Oke kak Yuda,” dia mengakhiri dengan stiker tersenyum.
***
Untukmu...
terima kasih telah memberikan kesempatan buatku untuk memperbaiki tulisannmu.
Maaf, kalau editannya tidak sesuai yang diharapkan, sebab aku belumlah menjadi
penulis hebat—hanya seseorang yang sedang belajar menulis.
Terima
kasih telah berbagi cerita denganku, juga dengan yang lain. Aku tak bisa
membayangkan bagaimana menjadi dirimu.
Kau
kembali mengingatkanku pada kedua orang tuaku yang jauh di sana, yang secara
tak sadar seringkali ku lupakan—jarang menanyakan kabar mereka.
Kau
telah mengingatkanku untuk selalu bersyukur, sebab di saat aku merasa menjadi
manusia yang tak beruntung, mengutuk kehidupan, kecewa pada ayah atas keinginan
yang tidak di turuti—sungguh di luar sana masih banyak yang serba.
***
Seperti
untuk siapa saja...
Saat
kau kecewa, merasa tak beruntung, merasa lemah—maka berjalanlah, lihatlah tak
jauh dari rumahmu, seorang nenek tua berjalan menjajakan daganganya dengan
gerobak. Di persimpangan lampu merah yang biasa kau lalu, seorang ibu-ibu
mengemis uang recehan sambli menggendong anaknya yang sakit. Tak jauh dari
universitas favorit tempatmu mengantuk dan mengobrol, beberapa anak terpaksa
putus sekolah karena tak punya biaya. Tak jauh dari cafe tempatmu makan enak,
tempatmu memamerkan makanan enak, seorang balita yang kelaparan menunggu
ayahnya yang seorang pengemen pulang membawakan nasi bungkus sisa makan siang.
Tak jauh tempatmu membuang sampah, seorang anak mangais-ngais rezeki di
tumpukan sampah.
Lalu, Masihkah adakah alasan untuk
kita merasa manusia paling tidak beruntung?
Berjalanlah
dan lihatlah... di sana kita akan menemukan bahwa tak ada alasan untuk tak bersyukur.
Rumah
Kata, 14 Maret 2015

0 komentar:
Posting Komentar