![]() |
| Ilustrasi |
Aku selalu percaya, perpisahan adalah nama lain dari
sebuah pertemuan baru—bisa saja kan kita bertemu tanpa sengaja di bandara atau
di rumah ibadah atau di tempat kerja atau di mana saja, siapa yang tahu.
Bagiku, tak ada yang namanya perpisahan dalam sebuah pertemuan, ia hanya berpindah jarak, berbeda ruang. Barangkali kita memang terpisah jarak, tapi kita masih bisa bertemu, mungkin dalam bayang-bayang, kenangan atau bertemu dalam do’a, kan?. Ah, yang terakhir sepertinya yang indah: kita sama-sama saling mendo’akan, lalu do’a-do’a kita bertemu di atap langit yang menjadi gelombang cahaya, melintasi pintu langit menuju Tuhan.
Ya, pada saatnya kita kembali akan dipertemukan, setelah
sekian lama kita menanti, seperti saat ini: aku kembali mendapat kabar bahagia
kalau aku kembali bisa bertemu dengan teman se-Nusantara, hmmm... lebih
tepatnya keluarga, jika tidak berlebihan. Yang jauh di sana—di pulau seberang.
***
Dulu kami dipertemukan di sebuah acara pelatihan
yang sama-sama kami ikuti di Akademi Militer, lalu tergabung menjadi pasukan
bernama Pleton 3 A. Perkenalan kami, mulanya malu-malu untuk saling kenal, tapi
tersebab keterpaksaan kami harus mengenal satu sama lain, entah bagaimana
caranya, seiring berjalannya waktu hubungan kami menjelma menjadi kebersamaan
yang tak perlu penjelasan-penjelasan.
Pada saatnya, waktu memaksa kami untuk kembali
pulang ke rumah masing-masing, beraktifitas seperti biasa—melangkah mengejar impian.
Tapi, walau sudah berbeda ruang, di pisah oleh jarak, kami masih setia untuk
saling bertukar kabar, senyuman, pengalaman, kesibukan, aktifitas atau bertemu
di via suara.
Tentang waktu, aku masih bertanya-tanya, sejenis
apakah ia, hingga bisa menentukan semuanya—perpisahan dan pertemuan. Aku
penasaran, siapakah yang sebenarnya berkuasa, kitakah yang menguasai waktu atau
waktukah yang menguasai kita, kitakah yang menentukan waktu atau waktukah yang
memegang kendali atas kita, sampai-sampai ada kata biarkan waktu yang menentukan. Kalau memang kita yang menentukan
waktu, tentu saja kita bisa kembali pada waktu yang kita inginkan, sebab remote kendali putarannya ada di tangan
kita, tapi, pada kenyataannya kita tak bisa melakukan itu semua, waktu tetap
saja terus mengalir, tanpa memperdulikan apa-apa. Ah, entahlah, filsuf besar
pun masih bertanya besar tentang teka-teki waktu. Tapi, sebenarnya, waktu lebih
dari sekedar deretan angka yang terkungkung di arloji, atau putaran detik,
menit dan jam. Waktu itu tentang pemaknaan kita pada setiap detik yang kita
lalui, sebab waktu yang bermakna adalah waktu yang lekat dalam ingatan, dengan
begitu kapan saja kita bisa
“menghidupkan” waktu—kembali memasuki waktu hidup, persitiwa yang kita hidupkan
di layar kenangan.
Dan pada saatnya, waktu juga yang membawa kabar
bahagia, kalau kami akan kembali dipertemukan di acara yang sama dengan tempat
yang berbeda. Senang bukan kepalang, tetiba media sosial bernama LINE—rumah
dunia maya kami, tempat biasa kami mengobrol—ketika kabar kami lolos untuk
pelatihan selanjutnya, maka jadilah ia menjadi semacam obrolan di ruang
khayalan:
“Allhamduilillah masih di kasih kesempatan buat
ketemu kalian semua. Gak sabar gaes ketemu kalian semua,” kata Ratih saat
setelah dia tahu kalau dia juga lulus.
‘See you gaes..miss you sooo sooo sooo
much..much..muuuuccchhhh,” tulis Tanzilla dengan emot yang bahagia
“Anak kamar no 5 yang di pelton 3 A lolos semua nih
yee.. Bobo bareng lagi. Bisa kali kita rumpi-rumpi cantik seperti biasa sebelum
bobo,” Ratih mulai membayangkan apa yang akan dilakukannya.
Semua meluapkan rasa rindunya dengan kata-kata dan
sticker yang bahagia. Vina tersenyum, Putri tersnyum, Puspa tersenyum—kami
semua tersenyum, melengkungkan senyuman bahagia.
“Seng, meranti ya, oleh-oleh khas Medan jangan lupa
di bawa ya.” Kata Abadi memulai percakapan baru.
Seketika saja, membuat yang lain untuk membawakan
oleh-oleh khas daerahnya masing-masing.
“Cik merlin ntar bawain Bika Ambon ya..aku suukaa
tuh,” Tanzilla
“Mau bika ambon dan meranti juga dong,” Ratih
“Oleh Nasi rendang yuda, Bayu bawa ayam kalio ya”
....
“Bawa oleh-oleh semuaa yaa... Ayok..Ayok... daftarkan
apa oleh-oleh dari tempat tecinta kalian semua gaes,” sambung cik merlin dengan
sticker tertawa.
Kami semua tertawa bahagia di ruang obrolan
khayalan.
Aku hanya diam saja, sesekali aku melihat wajah
mereka yang tertawa bahagia di ruang khayalan.
“Waktu memang misterius,” pikirku dalam hati,
“padahal kita belum tahu apa yang akan terjadi esok, tapi kita selalu tersenyum
membayangkan sesuatu yang akan terjadi di ruang khayalan” tambahku dalam hati.
Tiba-tiba di tengah kesenyapanku, aku jadi
membayangkan saat kami bertemu kembali, aku penasaran siapakah siapakah yang
jabatannya paling erat dan siapakah yang senyumnya paling bahagia saat kita
bertemu kembali?.
Ya, kita selalu menemukan kebahagiaan dengan
membayangkan apa-apa yang akan terjadi, bukan? Kita jadi senyum-senyum atau
tertawa sendiri dengan membayangkan semacam bayangan-bayang yang akan terjadi
di waktu yang belum ada kepastian.
Itulah ajaibnya ruang khayalan—membuat kita bisa
tersenyum atau tertawa sendiri, tapi bisa juga menjadi penyebab kekecewaan,
sebab apa-apa yang kita bayangkan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi
dari sanalah kita belajar tentang pengharapan. Berharap berarti berada di titik
keseimbangan antara kepastian dan ketidakpastiaan, ketika bayangan sesuai
dengan harapan maka kita patut bersyukur, namun ketika tidak sesuai dengan
harapan(ketidakpastiaan) tak apa-apa, sebab kita berada di titik keseimbangan—tidak
terlalu berharap. Dan kita hanya bisa berharap, kan? Semoga semua seperti yang kita bayangkan--harapkan.
***
Buat kalian yang jauh di sana, selamat saling
menunggu untuk sebuah pertemuan baru...:-)
***
Rumah kata, 30 Maret 2015

0 komentar:
Posting Komentar