"Selamat datang rasa
takut," begitu kataku saat kau datang kembali mengunjungiku. Aku tersenyum
ke arahmu. Kau biasa-biasa saja dengan wajah datarmu, tapi agak sedikit
menyeramkan. Ah, ternyata kau masih saja seperti yang dulu: datang di mukaku,
kadang pakai permisi atau kadang kau datang secara tiba-tiba.
Kau memasuki rumahku, lalu
membuat nyaliku menciut. Memasuki kamar hatiku, lalu kau tebarkan virus
kekhawatiran, kadang-kadang juga menyurutkan semangatku. Kau masih saja seperti
yang dulu: datang dan pergi dalam kehidupanku.
Walaupun begitu, dengan senang hati aku selalu berusaha menyambutmu dengan
senyuman. Aku senang kau datang dalam kehidupankku, pintu hatiku seolah selalu
terbuka untukmu. Aku selalu mempersilahkanmu untuk berbuat sesukamu: membuatku
khawatir, gelisah, malas, tak bernyali, mematahkan semangatku, menggetarkan
dadaku, menjajah rasaku atau apa saja yang mengecilkan diriku. Tapi, tentu
saja, aku selalu bilang "jangan
berlama-lama ya. Sebab aku harus melanjutkan langkahku," namun kau
membentakku, kau tak terima perkataanku "tidak, aku ingin tetap berada
dalam dirimu," teriakmu, mukamu murka, matamu melotot, lalu membesarkan
badanmu.
Aku jadi takut melihatmu, aku
gemeteran, badanku berguncang hebat, langkahku terasa berat, inilah saat
terlemahku—membiarkanmu menguasaiku, lalu aku kalah—tak melakukan apa-apa,
kembali melangkah mundur.
Tapi, apakah aku akan tetap
membiarkanmu menguasai diriku--membuatku selalu menjadi penakut? Tidak. Dan saat-saat inilah aku menyadari
bahwa tak ada cara lain kecuali aku harus melawanmu, mengalahkanmu, mengusirmu,
membuangmu jauh-jauh dalam diriku. Lalu aku membesarkan badanku, menguatkan nyaliku,
melenyapkan segala kekhawatiran, membulatkan tekad dan menghancurkanmu dengan keberanian
yang ku punya.
Atau aku punya cara lain:
kadang-kadang aku tak menghiraukanmu, menutup telingaku dari bisikanmu,
mematikan mataku dan terus saja melangkah, tanpa memperdulikanmu.
Ketika aku berhasil mengalahkanmu,
aku tau kau akan datang kembali padaku dengan rupamu yang lain--lebih kuat,
lebih besar, lebih ganas. Dan saat itulah aku menyadari semakin kuat dirimu,
berarti aku akan semakin kuat dan berani. Dan tentu saja naik
"kelas".
Jujur saja, aku berterima kasih
padamu, karena telah hadir dalam kehidupanku. Sebab tanpamu, aku tak pernah
merasakan yang namanya khawatir, gelisan dan takut—untuk kemudian belajar
mengalahkanmu. Darimu aku belajar untuk menjadi pemberani. Tersebab dirimu—rasa
takut, aku menemukan keberanian di tengah ketakutanku padamu. Tersebab dirimu—rasa takut, saat-saat aku
merasa lemah dan takut sesungguhnya merupakan saat-saat terkuatku.
Terima kasih rasa takut telah
hadir dalam hidupku, telah menyadarkan ku untuk terus melangkah, telah mengajarkanku arti dari sebuah ketakuta. Kapan saja, ketika kau datang, aku akan menyambutmu, tapi
tentu saja "jangan berlama-lama ya.
Sebab aku harus melanjutkan langkahku--mewujudkan mimpi-mimpiku."
Rumah Kata, 1 Maret 2015
Rumah Kata, 1 Maret 2015

0 komentar:
Posting Komentar