Bahagia Itu Sederhana

Mandira, rasanya sudah lama tak menyapamu. Seperti biasa, kali ini aku ingin bercerita, sederhana tapi memiliki efek luar biasa dalam mengurai benang kebahagiaan dalam hatiku...

Satu hari yang lalu, senja dipaksakan meneggelamkan sinar pekat kuningnya oleh hujan yang masih meninggalkan selimut mendung, menghembuskan udara yang cukup dingin. Sore itu aku mengantar seorang teman di daerah Limau Manis, sementara dalam perjalanan, lantunan ayat Allah di masjid-masjid menyejukkan senja yang buram--menyambut datangnya maghrib.

Sesampai di rumah teman, tepat di depan rumahnya, berkumandang nada musikal bathin paling indah--adzan maghrib yang menyeru orang-orang beriman untuk rehat sejenak dari kesibukan duniawi—menghadap Sang Peniup Angin Kebahagiaan.

Segera aku susuri rumah Allah di sudut-sudut jalan dan aku dapati tak terlalu jauh dari rumah temanku, sesampai di masjid terlihat anak-anak santri sedang sibuk membetulkan peci dan sarung bagi yang laki-laki, di samping pintu kiri, santri perempuan sibuk memasang mukenanya.

Aku baru saja mensucikan tubuh dengan usapan wudhu, lalu segera menuju ke dalam masjid. Tersebab salah jalan—aku memasuki masjid dari pintu jama’ah perempuan, aku berjalan di tengah-tengah santri perempuan, ada di antara mereka yang senyum-senyum melihatku, yang sesekali juga membisikkan sesuatu—melirik ke arahku, aku tersenyum melihatnya, barangkali mereka tersipu malu akan pancaran senyumku, tak kuduga ternyata pesonaku juga membuat terpaku anak-anak kecil hehe (kegeeran)...

Maghrib usai sudah, ku alihkan pandangan di luar masjid melihat bintang-bintang kecil yang kelak akan bersinar terang, lima santri laki-laki yang sedang asyik bercanda satu sama lain, mereka berlari-lari saling kejar, ada juga yang duduk manis satu-tiga santri.

Segera ku hampiri mereka, lalu menyapa mereka dengan salam sejahtera, dengan senyum keramahan. Dan bercengkrama dalam balutan embun tebal, dinginnya sisa-sisa hujan menguap oleh kehangatan percakapan, dihiasi pula sesekali canda dan tawa kami. Kami merasa dekat, kurasakan sebuah simpul mengikat kami, sekejap menghilangkan kesadaran atas waktu yang berguguran, menghapus kesadaran apakah kami pernah bertemu atau belum sudah tak penting lagi.

“kelas 1 SMP bang,” kata salah satu santri dengan nada khas anak-anak.

Macam-macam, tapi jika di rata-ratakan maka mayoritas sudah kelas 1 SMP dan 2 SMP. Kami tertawa , tersenyum dan kami bercerita bersama, bukan tentang dongeng kancil yang licik atau sorak-sorai memberi semangat kura-kura dalam lomba lari, tapi tentang sebuah harapan, aku dan mereka berbagi impian-impian kecil.

Aku beralih ke santri-santri perempuan, yang sedari tadi heran melihat kami, memasang wajah penuh harap. Berharap seorang mahasiswa menghampiri mereka. Tak jauh beda, aku sapa mereka dengan salam sejahtera, dengan senyum keramahan.

“ini siapa namanya?” tanyaku, sambil menebar senyuman.

“Ayu bang,” jawabnya

“kalau yang sebelah Ayu, siapa?” tanya ku lagi

Percakapan kami bak seperti pergelaran opera komedi, jenaka dan gombal.

“Indah babang” jawab alainya.

Tawa kami pecah seketika mendengar celoteh salah satu santri.

“kalau Indah, sekolahnya dimana?” tanyakus sambil tertawa kecil.

Dia terseyum, lalu dengan nada malu-malu, seperti halnya rintik-rintik hujan yang masih malu-malu untuk berhenti,

“di hatimu baaang?,” sontak kami tertawa kembali, dan seketika kata-kata, “cieeeeeee, cieeeee, cieeee” menyeruak, mengundang tanda tanya emak-emak dalam masjid. Indah memang lucu.

Kali ini aku beraksi untuk menghibur mereka, barangkali banyak yang belum tau kalau aku dulu... ah sudahlah. Aku pura-pura memasang wajah kaget,

“Serius?” dengan nada yang tak bisa ku deskripsikan, “Coba bang liat!” dengan pura-pura lihat dibalik baju.

“wah, iya, kok ada indah ya di hati abang?” tambahku gombal.

“nih, ndah, kan indah udah ada di hati abang ne, trus kalau bang kasih hati bang ke indah, mau nggak?” pura-pura merayu.

Indah tersipu malu, kepalanya menunduk, santri-santrinya dengan lugunya mengatakan, “cieee indah, cieee, indah,” di sisi lain emak-emak tersenyum, soerang nenek juga terlihat melengkungkan senyumnya memperlihatkan gigi ompongnya. Salah seorang emak keluar berdiri didekat pintu melihat.

Lalu aku tanya cita-cita mereka, memang apa yang mereka impika rata-rata sudah mainstream: dokter, guru dan polwan.

“Ada yang pengen jadi dokter hewan gak?” Mereka tertawa, mendengar pertanyaanku yang barangkali terdengar lucu baginya.

Entah belajar dari mana, entah virus apa yang menyebar ke anak-anak,

“nggak bang, jadi dokter cinta, maunya?” kembali tawa kami pecah,

“wah bisa donk nyembuhin hati bang?” tanya ku sambil tertawa kecil.

Santri-santri tertawa, aku tertawa, emak-emak tertawa dan salah satu nenek pun ikut tertawa melihat tingkah santi-santri, mendengar percakapan kami.  Barangkali, tawa kami memancarkan cahaya, mengundang penasaran penghuni langit, bulan dan bintang terlihat mengintip kami di balik embun.

“hmmm... abang juga sama kalian, punya impian. Saat ini abang punya impian bisa ikut Indonesia Mengajar, abang pengen bisa ngajar anak-anak kayak kalian di pelosok negeri,” kataku tersenyum.

“ya sudah, yang rajin ya sekolahnya, biar impiannya bisa terwujud” pesanku.

Aku tersenyum, anak-anak tersenyum, emak-emak terseyum, seorang nenek tersenyum, rembulan pun tersenyum, senyum kami melengkengkungkan senyum semesta—mengurai benang kebahagiaan dalam hati kami.

***
Mandira, bagiku bahagia itu sederhana yaitu bisa membuat anak-anak tersenyum manja, tertawa lepas. Senyum mereka seputih embun, putih bersih tak ternoda oleh kepalsuan, tawa mereka polos tak dipaksakan. Bagiku bahagia itu sederhana yaitu bisa menghibur anak-anak, mengurai senyum anak-anak, melepaskan tawa mereka, yang barangkali jarang mereka dapatkan.

Bahagia itu sederhana, tak perlu meronggoh kocek tebal, tak perlu jauh mencarinya. Kebahagiaan ada disekitar kita, di rumah, di kampus, di sudut-sudut kampung, kita hanya perlu memanggilnya lebih dalam di relung hati, membuka pintu di sudut hati paling dalam,merasakannya dengan iman.

Baiklah aku punya satu rahasia sederhana dalam mengurai benang kebahagiaan, bahagiakanlah orang lain karena Tuhan, lalu biarkan Tuhan yang akan membahagiakan mu, rasakanlah dengan iman. Akan beda rasanya kebahagiaan yang Tuhan tiupkan, lalu kita rasakan dengan iman,  dengan kebahagian yang semu.

Bahagia itu sederhana, sahabat :-)

Kota Iman, 3 September 2014

0 komentar:

Posting Komentar