Tuhan Akan Memaafkan

ilustrasi 
Adzan isya baru saja terdengar berkumandang, aku dan ayahku bergegas menuju ke muka masjid yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumahku. Kami melangkah pergi menjawab panggilan Allah.

Seperti biasa. Ayah selalu mengajakku untuk shalat isya berjama’ah di masjid, kata ayah, pahala kita akan berlipat ganda kalau shalat berjama’ah di rumah Allah.

Oh, ya, entah kenapa aku ngrasa bulan dan bintang setiap malamnya terlihat mengintai kami di balik embun malam—barangkali tersenyum melihat makhluk ciptaan Tuhan menghadap Tuhannya, menyaksikan tangan seorang ayah memegang tangan anaknya dengan keimanan menuju rumah Sang Pencipta.
Dalam perjalanan, aku selalu menyempatkan meliriknya dibalik gumplan awan, lalu tersenyum kecil padanya.

Usai shalat isya, aku melihat tangan-tangan kepasrahaan tertadah, khusyuk memohon pada Tuhan. Sementara aku yang di samping ayah ikut berdoa’a pada Tuhan, pintaku sederhana, “Tuhan yang baik, maafin aku, ya.” aku bilang begitu, lalu aku tersenyum pada Tuhan karena aku tahu bahwa Tuhan menyayangi anak kecil yang memohon padaNya.

Aku juga tahu, Tuhan itu Maha Baik dan Maha Pengampun, Tuhan tentu tahu setiap manusia pernah bersalah, termasuk aku, bocah ingusan umur 13 tahun. Maka sudah sewajarnya aku meminta maaf. Tuhan akan memaafkan, bukankah Tuhan sayang pada anak-anak, kan? :-)

Adalah manusia namanya, semisal kain putih yang selalu lekat oleh noda hitam--tak ada yang suci, setiap manusia punya kesalahan, tapi dibalik itu jangan pernah lupa, selalu ada pemaafan dari Tuhan.

“Setiap manusia pernah melakukan kesalahan,” kata ayah di saat perjalanan kembali ke rumah, “tak pernah ada orang yang hidup tanpa noda dan dosa. Itulah sebabnya Tuhan selalu menyediakan tangan-Nya untuk menyambut tangan hamba-Nya yang memohon ampunan” kurasakan tangan penuh kasih mengulas kepalaku.

Ya, Dia Maha Pengampun, jadi untuk apa Tuhan memiliki sifat itu kalau tak ada yang bersalah? Rasanya, sudah menjadi tugas kita untuk bersalah dan berdosa. Agar kita punya kesempatan memohon ampun dan Tuhan akan memaafkan.

“Setiap kali kita bersalah dan berdosa, sebenarnya kita sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Seperti setiap kali kita jatuh, kita sebenarnya sedang belajar menuju tempat yang lebih tinggi,”

“tapi yah, apakah semudah itu Tuhan memaafkan kita?” tanyaku penasaran.

Ayah tersenyum kecil, menangkap apa yang ku makasud.

“Ya, tapi ada syarat yang harus kita penuhi untuk diampuni.” jawab ayah

Aku mengernyitkan dahi—membentuk garis-garis kecil, aku penasaran akan syarat pemaafan Tuhan, apakah sama dengan cerita agama lain yang menghapus dosa dengan sistem lisensi dosa—semua kesalahan akan dihapus dengan uang? Ah mana mungkin...

Sesampai di depan rumah, seperti biasa, ayah dan aku sejenak bersantai menikmati hembusan angin malam. Disisi lain aku masih diliputi rasa penasaran akan pemaafan Tuhan, sementara bunga mawar merah punya bunda tepat di depanku melambai—lambai mengikuti alunan angin--melempar senyum keharuman padaku.

“Dengarkan dengan iman ya?”

Aku mengangguk pasti.

Ayah melanjutkan ceritanya.

“Anakku, sederhana saja: padamkanlah arogansimu, hilangkanlah keangkuhanmu, buka hatimu untuk Allah, lalu bersujud taubatlah pada Allah, sebutlah nama Allah, merintihlah di atas sejadah-Nya. Pecayalah kau tak perlu angin dan malaikat untuk menyampaikannya pada Yang Diatas, Tuhan akan turun langsung menyambutnya.”

Ayah berhenti sejenak, dia padamkan nyala matanya memandang bulan, lalu menghela nafas panjang, raut wajahnya melukiskan penyesalan yang mendalam, entah apa yang pernah terjadi pada ayah.
Masih... masih... matanya terpejam untuk beberapa menit.   

“Anakku.” ayah membuka matanya, “mohon maaflah pada Allah, sesali dan akuilah kesalahanmu, berjanjilah untuk tak lagi melakukan kesalahan yang sama. Lepaskanlah jubah kepalsuan, keangkuhan, kemunafikan—biarkan mereka terbang lepas dari dirimu, bersihkan segala penyakit dalam hatimu. Setelah itu basahilah bibir dan hatimu dengan nama Allah. Dan lalu rasakanlah dengan imanmu, ada sesuatu yang mendesir manja dalam kalbumu—Allah pancarkan cahaya kedamaian dan kelembutan yang mengalir dalam hatimu, disaat itulah kau akan rasakan indahnya pemaafan Tuhan.”

“Yakinlah, biar seluas samoedra dosamu, akan selalu ada pemaafan dari Tuhan,” tutup ayah, lalu membiarkan aku sendiri menikmati angin malam, barangkali ayah sengaja membiarkanku berkontemplasi.

Ah, indah sekali nasihatmu ayah, sekarang aku makin yakin kalau Tuhan akan memaafkanku” gumamku dalam hati.

Aku tersenyum--melengkungkan bibir dibawah senyuman puranama, sesuatu berpijar dalam hatiku, membuatku memejamkan mata dengan iman, lalu berkata dalam hati “Tuhan yang baik, maafin aku yang masih kecil, ya.” 

Kota Iman, 25 september 2014

0 komentar:

Posting Komentar