Sekecil apapun
kebaikan yang kau lakukan, maka kebaikan itu untukmu sendiri, sekecil apapun
keburukan yang kau lakukan, maka keburukan itu untukmu sendiri.
Tentang kebaikan, izinkan aku bercerita...
Empat hari yang lalu, Minggu pagi, matahari perlahan
mulai membaca reklame-reklame di jalan utama Kota Padang, dibagian lain cahaya
nampak menyirami pucuk-pucuk bukit, dimenit selanjutnya sang surya pagi
tersenyum dengan cahaya paginya yang mengesankan, sementara embun pagi masih
bergelantung menghiasi kebiruan langit.
Masyarakat kota mulai menemukan ritme hari libur: sekumpulan
komunitas bike membentuk barisan
mengayuhkan sepedanya. Orang-orang pada jogging mengitari lapangan. Suara tukang
sayur dan derit gerobaknya. Anak-anak berlarian mengejar bola. Pedagang mulai berjejeran
membuka lapak dagangannya.
Itulah episode lain pagi itu.
Lalu Jauh dari jantung Kota, di sudut kota tepatnya,
seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri, memainkan ritme hari libur
dengan caranya sendiri. Adalah Naila namannya.
Pagi itu Naila disibukkan dengan bahan-bahan kue
donat: tepung, gula, mentega, telur serta alat lainnya yang ia beli satu hari
lalu. Ya, pagi itu, Naila siap-siap meracik kue donat sederhana, donat yang
akan menerbitkan surya kebaikan dalam hatinya, kue donat yang barangkali
membuat malaikat tersenyum melihatnya.
Disisi lain matahari terlihat telah sempurna
menampakkan wajahnya, senyumnya menyelinap dibalik-balik tingkap-tingkap
jendela—mulai menerangi sudut gelap dirumahnya.
Semua bahan lengkap sudah, lalu Naila mulai
meraciknya, tangan lembutnya dengan lincah mengkombinasi berbagai bahan, dengan
sigap tangan-tangannya mengaduk-aduk bahannya, semua proses dilewatinya, segala
yang dipersyaratkan telah dipenuhinya. Maka “tersulaplah” bahan-bahan tadi
menjadi kue donat dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Donat usai sudah, terhitung dua puluh lima buah donat
bisa dia bikin, lalu dibungkus dengan sebuah kantong plastik kecil. Inilah
saatnya Naila melakukan hal yang barangkali tak biasa dilakukan orang lain. Dia
menggoreskan catatannya sendiri untuk malaikat.
Untuk beberapa
kebaikan, kadang kita mesti menjemputnya, mencari dan melakukan kebaikan atas
dorongan diri sendiri, untuk menjawab panggilan hati.
“Bissmilahirrohmanirrahim” ucapnya dalam
hati sambil tersenyum. Ia lalu mulai melangkah menyeberang pintu kontrakan,
dengan sebuah harapan yang menggumpal dalam hatinya. Berharap yang dilakukannya
hari ini menjadi catatan kecil untuk malaikat.
Di luar sana, sang surya detik demi detik mulai
meninggi di dinding langit, tak persis tau berapa derajat. Sementara, jalan
utama Kota mulai menyepi, kembali kerumah, tenggelam dalam lautan rasa bersama
keluarga atau barangkali beristirahat sepuasnya.
Di tengah perjalanan, cahaya matahari membelai
lembut wajahnya, maka bersinarlah ia seperti hatinya saat itu. Setiap titik
cahaya yang menyentuhnya bagai sentuhan malaikat yang menyemangtainya.
Dengan senyuman, Naila terus berjalan menyusuri
gang-gang kecil, sambil menenteng plastik kecil berisi kue donat. Mencari
anak-anak kecil yang sedang bermain atau menangis atau belajar atau apa saja.
Dan tak jauh dari tempatnya, Tuhan menjawab
perjalanannya ,di ujung gang kontrakannya, matanya berbinar, tertuju pada seorang
anak yang sedang berjalan. Tak butuh waktu lama, Naila dengan semangatnya
mengahampirinya.
Dan mereka berjumpa.
“Hai dek,” Naila
menyapa anak yang ia jumpai.
Anak kecil itu berhenti, sekilas wajahnya agak
kaget, lalu menghadap ke Naila.
“namanya siapa?” Naila tersenyum.
“Ayu kak!” jawab anak kecil itu.
Naila sedikit membungkuk, menyesuaikan ketinggianya
dengan Ayu. Lalu memgambil dua potong kue lalu diberikannya pada Ayu, “Ooooh...ini
kakak kasih kue untukmu.”
Ayu dengan malu-malu khas anak-anak mengambil donat
yang diberikan.
“makasih ya kak” sambil tersenyum.
“Iya sama-sama dek, jangan lupa, yang rajin
sekolahnya ya.” pesan Naila.
“Iya kak” Ayu mengurai senyumnya, matanya menyipit.
Naila tersenyum, Ayu pun senyum balik, kali ini
senyumnya lebih lebar, mereka saling mendaftarakan senyuman, senyuman yang
mengurai benang kebahagiaan di hati mereka.
“Makasih ya kak, kuenya, Ayu pergi dulu” tak lupa
anak kecil ini menyalami tangan Naila, lalu pergi entah kemana.
Sementara Naila, masih berdiri ditempat yang sama,
menatap punggung anak kecil yang baru saja ia berikan donat, kian menjauh pergi
meninggalkan dirinya yang masih tersenyum, seperti ada senyawa kebahagiaan yang
meresap dalam hatinya.
Dia menghela nafas panjang, memejamkan matanya untuk
beberapa detik—merasakan kedamaian yang menyelinap dari dalam hatinya.
Setiap kebaikan
yang kita lakukan, selalu berakhir pada kebahagiaan—kedamaian.
Naila terus melangkahkan kakinya, kali ini tungkai
kakinya terasa lebih kuat, ia semakin bersemangat, hatinya perlahan mulai
terbit cahaya kecil di balik jendela hatinya.
Setelah bertemu Ayu, tak seorang anak lagi ia
jumpai. Tak ada anak-anak yang berlari-lari, menagis dan bermain. Sementara jam
dinding sebuah toko yang ia lewati baru saja mengabarkan hari akan beranjak siang.
11.00, dua jam lebih setelah dia menginjakkan kakinya di seberang pintu
kontrakan.
Disisi lain, detik-detik terus berguguran sepanjang
langkahnya yang tegap, dia mulai merasakan
lapar yang melilit perutnya, sesekali juga mengusap keringatnya, sebab
hari mulai menggeliat oleh panasanya. Tak apa-apa, dia terus berjalan mencari
kebaikan yang entah bersembunyi dimana.
Sejenak ia berhenti di persimpangan jalan, tepat di muka
sebuah masjid. Tak lama berselang, Adzan zuhur berkumandang. Naila lalu menarik
nafas panjang, kemudian menjawab panggilan Yang Maha Mengabadikan Catatan
Kebaikan.
Usai shalat, Naila duduk sejenak di pelataran masjid.
Menit kemudian, tetiba suara anak-anak di gang sebelah masjid memecah kristal lamunannya.
Ah, betapa bahagianya diia bisa medengar suara mereka. Dia lalu bergegas
menemui mereka—sekumpulan anak-anak yang baru saja usai bermain bola, dan mengajak
mereka mengobrol untuk beberapa saat.
Mereka terlihat akrab, sesekali tertawa bersama,
disebabkan lelucon anak-anak, seketika kesejukan percakapan mengacuhkan panas
yang terik, apakah mereka pernah kenal apa tidak sudah tak penting lagi.
Tuhan selalu punya
cara sendiri untuk menguji kesungguhan hamba-Nya.
Saat itu Satu anak-lima anak-tujuh anak-sebelas anak
dia berikan satu-dua donat. Setiap donat yang dia berikan membuka tiap-tiap
jendela dalam hatinya, memancarkan cahayanya masing-masing. Maka setiap donat
yang diberikan, ia seolah sedang membuka lembaran-lembaran catatan untuk
malaikat.
Dan akhirnya donat yang ia buat dengan kelembutan
dan keihklasan habis jua. Ah, betapa bahagianya dia hari itu, sepanjang
kakinyanya melangkah pulang, sepanjang itu pula senyumnya terurai—tak tertahan.
Sebenarnya lebih dari itu, ia ingin kali berteriak menumpahkan semua kebahagian
yang menyelumuti dirinya. Meledakkan semua rasa yang menggumpal dalam hatinya.
Ketika kebaikan
yang kita tanam, maka kebaikan pula yang kita tuai. Setiap kebaikan yang kita
lakukan selalu mengehmbuskan angin kebahagian, yang mendesir manja dalam hati
kita, kebaikan yang pabila kita lakukan dengan keimanan.
Dia benar-benar bahagia teramat, hatinya menyala,
ada surya yang terbit dihatinya, surya lain: surya kebaikan. Naila, telah
menuliskan catatan untuk malaikat sepanjang perjalanan memberikan donat untuk
anak-anak.
Lihatlah,
kebaikan tak melulu soal materi. Kebaikan itu soal keihklasan dalam memberi,
tak penting sebesar apapun, sebanyak apappun, berwujud apapun. Kebaikan itu
ibarat sebuah biji bunga kebaikan yang kita tanam, satu bibit kebaikan akan
memunculkan 7 cabang kebaikan, lalu cabang itu membentangnkan 100 ranting
kebaikan, begitulah kebaikan, satu kebaikan yang kita tanam maka 700 kebaikan
yang tercatat di catatan malaikat.
Maka
bayangkanlah, berapa kebaikan yang harus ditulis malaiakat, dengan hanya kue
donat, barangkali malaikat kerepotan dalam mengakalkulasikan jumlah kebaikannya,
sebab setiap langkah kakinya, bulir-bulir keringat yang jatuh, setiap senyuman
yang ia terbitkan, kue donat yang dia berikan, anak-anak yang memakan kue
donatnya: menjadi catatan untuk malaikat.
Seperti dalam firman Allah yang satu ini...
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada
(malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah)
dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)
***
Jika kebaikan membahagiakan, kenapa harus menebar
keburukan—kecuali keburukan yang membuatmu bahagia, tapi rasanya tak mungkin.
Untuk semua ini, dari cerita yang sederhana, tentang
kebaikan, aku sedikit gusar, sebab senyuman entah bersembunyi di mana, nurani
entah pergi kemana.
Saat ini mulai lah menyinari hati kita dengan surya
kebaikan, sederhana saja: mulai dari diri sendiri, mulailah menebar senyuman, mulailah menawarkan tangan untuk
mereka yang membutuhkanmu.
Setelah itu ku ucapkan: selamat menyelami samudera kebaikan--kebahagiaan.
Kota Iman, 11-12-2014

semoga kita selalu belajar tentang ketulusan dari hati yang ikhlas..
BalasHapusterimakasih, semangat menulis :)
Aamiin..
BalasHapusInsyaAllah,
mohon do'anya, agar bisa terus belajar menulis--meneabar kebaikan.. :-)
Keikhlasan memberikan aura kebahagian yg sejati, yg menenangkan, & jauh dari penyakit hati.... :)
BalasHapus