![]() |
| Doc. Pribadi di Gunung Talang, Sumbar. |
Dua hari yang lalu, pancaran sinar
matahari siang tak lagi menyengat, sebab langit telah diselimuti awan pekat
yang padat, mengalahkan garangnya cahaya siang, sebentar lagi sepertinya akan
turun hujan. Bukan tanpa sebab, akhir-akhir ini udara Kota Padang sering di
datangi hujan.
Benar saja, tak lama setelah itu
awan-awan jenuh tadi memecah diri, lalu membentuk bulir-bulir kecil yang jatuh
membasahi bumi. Cukup deras, membuat beberapa
pengguna jalan menepi untuk berteduh di sebuah rumah, ada juga yang di masjid. Ibu-ibu
dengan cekatan mengangkat jemuran. Anak-anak mengurung diri di rumah karena di
larang ayahnya untuk keluar. Tak jauh terlihat seorang remaja perempuan
mengintip hujan dari layar jendelanya, ia tersenyum, barangkali membayangkan
sesuatu yang membahagiakan di saat hujan, ada kenangan di balik layar kaca
matanya. Ah, hujan, kau selalu menyimpan
banyak cerita: kebahagiaan dan kesedihan. Udaramu mengundang kembali rangkaian
peristiwa yang tak terlupakan--kenangan.
Sementara di balik sebuah rumah
sederhana, enam orang mahasiswa sudah menyiapkan diri meluncur menuju Alahan Panjang,
tempat pos utama untuk mendaki Gunung Talang, Sumbar.
“Gi
mana nih bro, lanjut atau kita tunggu
redah dulu?” Tanya Hafiz pada teman-temanya.
“Udah lanjut ajalah, lama kalau kita
nunggu-nunggu hujan reda, ntar gak bakalan nyampe kita jadinya,” jawab Vero
bersemangat, lalu menyampirkan tas di punggunnya, bayang-bayang keindahan
puncak Gunung Talang terpancar dari matanya.
Vero mengarahkan matanya menuju
temannya yang lain, seperti tahu apa maksudnya, mereka mengangkat bahunya,
sebagai pertanda terserah saja. Bayang-bayang ketinggian Puncak Talang
sepertinya telah menguasai diri mereka, bagai kekuatan yang entah bagaimana
caranya menjalar kuat dalam hati mereka, tak terpatahkan.
Tak pakai ancang-ancang, mereka langsung
menaiki sepeda motor, dan cussss... Berjalan diantara hujan, melesat membelah
hujan. Hujan ditembusnya, angin di tantangnya, petir sesekali menggelagar tak sekalipun
mampu menggertak niatan mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah melewati hujan dua jam lamanya,
akhirnya mereka sampai di Aia Batumbuk, Alahan Panjang, tempat pos utama
memasuki Gunung Talang, tempat awal mula perjalanan menapaki Gunung Talang.
***
Jam yang melingkar di tangan telah
mengabarkan pukul 17.45 wib, sudah petang rupanya. Hujan nampaknya masih
malu-malu untuk berhenti, ia sisakan rintik-rintik untuk sekedar hinggap di
ujung dedaunan. Disisi lain, awan tebal masih menyelimuti langit—meredupkan
kilauan senja di ujung bukit.
“Oke, semuanya udah siap ya, sebelum
kita berangkat ada baiknya kita berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing,”
pinta Vero pada teman-temannnya setelah siap-siap. Mereka membentuk semacam
lingkaran, lalu menunduk, merapal doa apa saja, agar semuanya baik-baik saja.
Dengan memulai menyebut nama Tuhan,
mereka lalu berjalan menghitung langkah menuju puncak. Mereka tak tau pasti
seperti apa perjalanan yang akan mereka tempuh, setelah hujan lebat memabasahi
tanah, sepertinya tak akan mudah, sebab mereka mendapati kabar dari orang-orang
yang turun pulang kalau jalan telah berubah menjadi lumpur, “susah jalannya,
mending kalian pulang aja,” kata salah seorang pendaki yang turun, “nih liat
kami,” dia menunjukkan tampilan bajunya yang dilumuri lumpur, jalan sepertinya
telah berubah menjadi semacam kubangan.
Sementara keluasan hijaunya daun teh
membentang memanjakan mata yang sesekali menunduk sebab diterjuni rintik hujan,
disisi lain sayup-sayup lantunan ayat suci al-quran terdengar meliuk-liuk di
lengkungan telinga—mengabarkan sebentar lagi maghrib.
“Ntar kita stop disana ya,” Debi menunjuk sebuah tempat yang tak jauh dari
tempat mereka berjalan, “kita shalat maghrib di sana aja.” Roney mengangkat dua
jempolnya sambil tersenyum, “Oke bro.”
Azan maghrib telah berkumandang,
melolong indah melalui pengeras suara masjid, mencerahkan langit dengan cahaya
lain—kedamaian. Seorang nenek berjalan pelan-pelan menuju masjid, seorang bapak
memegang tangan anaknya untuk segera menjawab panggilan Tuhannya, remaja masjid
segera menyebrang pintu rumahnya dengan peci yang melekat di kepalanya,
sebagian muslim rehat sejenak dari kesibukan duniawi kemudian memilih untuk
menghadap Tuhan.
Akhirnya mereka berhenti di tempat yang
di sepakati: tak ada rumah atau tempat berteduh, hanya sebuah ‘lantai’ yang
berasalkan rerumputan basah, “kita shalat di sini aja, tayamun ajalah ya,
soalnya gak ada air buat wudhu,” kata Vero, lalu mereka bersegera bertayaumun
dan membentang sajadah untuk shalat Maghrib, sementara rintik-rintik hujan
masih bertahan dengan kadar yang sama.
Selepas mengahadap Tuhan, mereka
berisitirahat melepas penat yang mulai melilit tungkai kaki mereka. Debi
terlihat mengeluarkan pebekalan di dalam tasnya, di sampingnya Roni sedang
memasang sepatunya. Vero lalu mengambil sepotong roti di depannya, “jadi,
lanjut atau kita berangkat besok aja, kayaknya hujan bakalan awet deh, jalan
juga udah susah kita lewatin,” Vero nampaknya mulai khawatir, keragu-raguan
perlahan menyeruak dalam hatinya, jalan yang tak layak lagi disebut sebagai
jalan di tambah lagi ada sebagian dari mereka yang memakai sandal, pencahayaan
yang seadanya, sebab malam telah menyergap: cukup menjadi alasan yang kuat untuk
mundur saja.
“Udah lanjut aja, udah jauh-jauh masa
kita balik lagi, kan gak kreeenn. Kita pelan-pelan aja, pasti sampai juga kok,”
Hafiz menyemangati teman-temannya.
Setelah bermusyawarah, akhirnya mereka
bersepakat untuk tetap lanjut menapaki Gunung Talang—apapun yang akan terjadi
nantinya. Lalu mereka kembali menegakkan tungakai kakinya, kembali menegakkan
dadanya, menyamprikan tas ransel di punggungnya dan bergerak maju menuju
puncak.
Di perjalanan, mereka berusaha
mengahadirkan indahnya Puncak Talang: bayang-bayang hamparan kehijaun yang
membentang, memandangi awan putih yang bergelombang, senyum matahari pagi yang
muncul dibalik gunung, menatap burung yang terbang bebas, lalu berdiri gagah di
titik tertinggi sambil tersenyum bahagia bagai mantra yang menguatkan mereka.
***
Lima meter, sepuluh meter, tiga puluh
meter, seratus meter perjalanan sudah mereka lalui, dan baik-baik saja, jalan
yang berlumpur masih bisa mereka lewati walau dengan susah payah.
Jauh, semakin jauh perjalanan yang
mereka lalui, ternyata semakin berat medan yang mereka injaki, lumpur yang
dalam membuat kaki mereka sesekali terapancang dan susah untuk di angkat,
memutus tali sandal Vero, memaksanya berjalan tanpa alas kaki di tengah
bebatuan dan licinnya jalan.
Sementara hujan tak kunjung henti dari
tadi siang, sesekali dia jatuh deras kemudian berganti menjadi rintik, begitu
terus untuk beberapa waktu. Sedang jalan semakin licin, sesekali membuat mereka
terjerambap, terjatuh, kaki yang terinjak batu-batu.
Tapi tak apa-apa, disanalah sebenarnya
sebuah tantangan menapaki perjalan menuju puncak, seperti kapan saja, semua tak
akan pernah mudah, keberanian dan semangatah yang menjadikanya mudah.
Lima jam lamanya mereka menaiki Gunung
Talang, jatuh-bangun tak menciutkan nyalinya untuk mundur, terjerambat tak
menyurutkan langkahnya, luka di kakinya
tak membuat mereka untuk berhenti, mereka terus berjuang hingga pada akhirnya
bulan mengintipnya di ujung atas sana, pertanda mereka telah sampai di tempat
peristirahatan, lalu mendirikan tenda, dan beristirahat untuk melepas lelah
yang tak terkatakan lagi.
***
Para pendaki mulai keluar dari dalam
tendanya, kemudian bergerak mendaki puncak Talang yang tak jauh dari tempat
pendirian tenda di saat matahari pagi perlahan mulai muncul menebar senyumannya
dengan cahaya ketinggian gunung yang mengesankan, perlahan merambat menelusuri
pori-pori—menghangatkan kulit yang membeku.
Hafiz, Vero, Debi, Roniy, Riyan, dan
Andi tak mau ketinggalan momen, mereka juga menjejakkan kakinya mendaki dengan
dada yang berdegup.
Setelah berjalan selama lima belas
menit, akhirnya mereka sampai di titik tertinggi Gunung Talang. Mereka lalu
menyapu pandangan disekitarnya, Dan vero, dia memisahkan diri dari temannya—memilih
menyendiri menuju sebuah batu yang menyendiri, di atas batu yang yang tinggi
itu, ia berdiri tegap dan gagah seperti seorang petualang tangguh, lalu ia
mulai ritual ketinggian: ia hirup dalam-dalam tipisnya oksigen di ketinggian,
ia biarkan matahari menjamah kulitnya, ia edarkan matanya menyapu bersih awan gelombang
awan putih—hamparan kehijauan yang membentang, bukit-bukit yang berbaris, burung-burung
terbang bebas, dan ah, ini yang istemwa tiga danau tersaji di depan matanya, begitu
indah. Di sana ia rayakan kemenangannya dengan tersenyum puas.
Lagi, dia masih tetap berdiri di atas batu itu, kali ini vero mengepalkan tangan ke atas, dibiarkannya semilir gunung menerpa wajahnya dan sesekali menyingkap helai rambutnya, kemudian dia menghela nafas panjang, lalu dipejamkan matanya, "puncak," katanya dalam hati, dia masih ingat betul apa yang dikatakan Fahd Djibran dalam bukunya yang berjudul perjalanan rasa, "tak hanya soal ketinggian. Ia adalah sebuah titik dimana kita bisa berdiri dengan perasaan tenang, bebas, dan bahagia. Puncak itu tentang sebuah titik yang membuat kita bisa melohat segala hal dari dimensi yang lebih tinggi secara lebih luas, lebih dewasa dan lebih bijaksana."
Setelah itu ia tertawa tanpa suara,
setelah berjuang hingga bisa menjejakkan kainya di puncak, dia jadi tersadar: ternyata puncak bukan hanya ketinggian,
kebebasa, dan kebahagiaan, tapi puncak adalah sebuah titik ketika kita bisa berada
diatas katakutan-katakutan, titik tertinggi yang membuat kita bisa melampui batas
kemampuan kita, melenyapkan kekhawatiran, lalu tidak pernah menyerah.
“Puncak adalah titik tertinggi yang
melampui batas kemampuan kita,” kembali
hatinya berkata.
Setelah itu, vero menarik nafasnya dalam-dalam,
lalu berteriak sekencang-kencangnya mengeluarkan gelombang ketakutan,
keragu-raguan, kekhawatiran yang sempat bernafas dalam dirinya. Sekali lagi, ia
berteriak, kali ini teriakan kebebasan—kebahagiaan yang menjelma kepak-kepak
sayap melesat menembus angin melintasi keluasan cakrawala.
***
Hari itu mereka menjadi pemenang bagi
dirinya sendiri, mengalahkan rasa takut, melenyapkan kekhawtiran, menyingkirkan
hal-hal yang membuat mereka untuk tidak melanjutkan perjuangannya, mereka buktikan
keragu-raguanya dengan tak mundur dalam melangkah. Hari itu mereka telah
menemukan puncak kehidupan mereka sendiri.
Maka, seperti kapan saja, dakilah
puncak kebahagiaan kita masing-masing, temukan puncak keberkahan, jalankan langkah-langkah
kerahmatan. Setidaknya untuk hari ini, lenyapkan segala ketakutan-katakutan dan
kegelesihan. Setidaknya untuk hari ini, kita bisa berdiri bebas dengan bahagia,
tentu saja dengan tidak melupakan sujud kita untuk Tuhan sebab di sanalah
puncak yang sesungguhnya: ketakwaan pada
Tuhan.
Rumah Kata, 06 Juni 2015

0 komentar:
Posting Komentar