Membuka Jendela Hati



ilustrasi

Untuk diriku sendiri,

Semoga kau baik-baik saja saat membaca surat dariku ini. Sengaja ku tuliskan surat untukmu dengan cara yang kurekonstruksi sedemikian rupa agar kau dapat memahaminya dengan mudah. Semua ini tentang dirimu, tentang aku—kita.

Mungkin karena terlampau gelisah, sedih, atau marah terhadap sesuatu yang kelak kau akan menyadarinya sendiri, sehingga aku menuliskan surat ini dengan perasaan yang sulit kujelaskan.

Jujur saja, untuk semua ini aku bingung, namun kau bebas untuk memilihnya, kau bisa memilih apakah kali ini aku marah padamu, kau bisa mengtur apakah ini bentuk kepedulianku padamu, kau bisa menentukan apakah aku kasihan melihatmu, terserah dirimu saja.

Bagaimana, ya, baiklah, aku harus terbuka padamu, maaf jika kata-kata ku barangkali melukai hatimu, maafkanlah. Tapi, untuk semua ini, aku hanya ingin dengan tangan kesadaran mengetuk kembali jendela hatimu.

Diriku,

Tak ada yang lebih kucintai selain dirimu, diriku sendiri.

Tak ada yang lebih ku benci selain dirimu, diriku sendiri. Kau selalu menjadi orang yang penuh kebingungan dan keragu-raguan.

Tak ada yang lebih ku rindu selain dirimu, diriku sendiri. Aku rindu akan dirimu dua tahun lalu. saat-saat dimana kau sangat terobsesi pada impian, menjadi salah satu milyaran ciptaan Tuhan yang tak kenal kata menyerah, menjadi salah satu dari sekian hamba yang disebut dalam ayat-Nya sebagai manusia yang beriman.

Diriku,

Entah mengapa, akhir-akhir ini aku melihat dirimu gelisah tak menentu, adalah disaat  kau banyak menghabiskan waktu yang sia-sia, kau lalui waktu yang tak bermakna bagimu, kau terlihat seperti orang yang tak tau harus berbuat apa. Aku juga heran, waktu dengan mudahnya kau biarkan lepas, tanpa bisa kau gunakan dengan baik.

Misalnya saja, kau lebih memilih bermain dengan gadgetmu dari pada membaca buku. Bukankah, kau telah berjanji pada dirimu sendiri, untuk lebih banyak membuka lembaran-lembaran cakrawala, bahkan, aku tau, membaca menjadi program harianmu, buktinya kau tulis di mading kamarmu, kau harus membaca dalam satu hari. Kau tak mengindahkan program yang kau buat sendiri, kau lebih memilih tenggelam dengan waktu yang tak kau maknai, membiarkan detik berlalu begitu saja.

Diriku sendiri, belakangan ini, aku juga melihat, ada rasa keragu-raguan hinggap dalam dirimu. Kau nampak ragu dalam mengekplorasi dirimu, bahwa kau memliki potensi jika benar-benar yakin untuk mengembangkannya, misalnya saja, kau bisa menulis.

Sudah beberapa kali kulihat, kau publikasikan tulisanmu disalah satu media sosial, dan coba tebak, apa reaksi mereka terhadap tulisanmu! Diriku sayang, mereka semua menyukai tulisanmu—bahkan ada yang salut dengan hasil kerja jari, hati, dan pikiranmu yang menghasilkan sebentuk warna tersendiri.

Tapi sayang, melebihi seribu kali sayang, kau selalu seorang peragu! Kau sendiri ingin menjadi penulis, ingin menghasilkan buku dan aku tahu bisa mewujudkannya. Tetapi keraguan selalu menggorgoti kebulatan tekadmu. Ketika ada pertanyaan ”kapan nih bikin buku?”, dengan hati yang bergetar oleh keraguan, kau jawab, ”belum tau, sekarang lagi belajar nulis dulu.”

Ya, ya , aku tau itu, aku sangat mahfum dengan itu. Tapi, tahukah kamu, kesempatan dan keberuntungan sesungguhnya tidak pernah berpihak pada mereka yang ragu! Kesempatan dan keberuntungan hanya akan mejadi pemilik mereka yang berani. Apa sih yang menghalangimu? Aku selalu heran padamu, diriku sendiri.

Aku tahu impianmu saat ini, bukankah kau ingin membagikan kisah-kisah yang membangun kembali jiwa yang tertidur, bukankah engkau ingin menebar inspirasi?.

Maka, dari semua ini, teguhkan kembali keberanianmu—bukalah lensah hatimu, lalu lihat potret-potret masa lalu yang berserakan, temukan kembali serpihan gambar masa lalu, kemudian susunlah kembali menjadi sebuah album perjalanan dirimu—menghidupkan kembali memoar dirimu.

Biar kuberitahu sesuatu: Untuk menjadi penulis tak hanya cukup sekadar menulis saja, kau perlu menambahnya dengan banyak membaca, sebab semua penulis adalah seorang pembaca hebat. Untuk menjadi penulis tak bisa sekali sulap langsung jadi, ia butuh latihan terus menerus, tanpa kenal lelah.

Untuk semua ini, aku hanya ingin mencoba menggetarkan kembali jiwa yang lama telah terlelap tersebab kelalain, keragu-raguan, agar kedepannya engkau kembali dengan jiwa yang tegar, dengan jendela hati yang terbuka, yang siap menelisik keindahan dibalik-balik jendela hati.

Semoga surat dariku ini mampu, setidaknya, sedikit bisa mengetuk jendela hatimu untuk kembali membukanya, sebab dari jendela hatimulah kamu bisa melihat sesuatu yang tak terlihat oleh mata.
Demikian surat ini ku tulis untukmu, diriku sendiri, dengan penuh kebencian, semoga kita selalu setia untuk saling mengingat dan menguatkan.

Salam,

Yuda  

3 komentar: