![]() | |
| Doc. Pribadi Yuda Oktana |
Ini adalah perjalanan seorang pemuda yang
melakukan pencarian mecari sumber cahaya kebahagiaan:
"Apa kebahagiaan bagimu?"
suatu sore Rayya bertanya pada temannya saat mereka duduk bersama mengahabiskan
waktu dipenghujung senja. "Kebahagiaan adalah ketika aku bisa tertawa,"
jawab temannya. Namun keesokan harinya Rayya mendapati temannya tertawa, tawa
yang lain, tawa kegetiran: tawa penyesalan sebab temannya telah melakukan hal
yang sia-sia.
"Apa kebahagiaan bagimu,?"
suatu siang Rayya bertanya pada seorang kaya raya di Kotanya, dia bernama Kurt,
"Kebahagiaan adalah ketika saya memiliki harta yang banyak.” Dia seorang
pengusaha sukses, wajahnya menghiasi diberbagai media cetak. Kurt telah
mendapatkan semuanya: uang, emas, dan deretan
mobil yang terparkir di garasi rumah mewahnya, namun keesokan harinya,
ia melihat Kurt sedang berdialog dengan tukang sapu di Kompleks Perumahaannya:
"Aku sudah tidak
membutuhkannya!" Kata Kurt pada tukang sapu. Seketika, mobil-mobil mewah
berlepasan dari manik-manik pakainnya, uang berhamburan dari saku bajunya, dan
barisan angka-angka dari rekening pribadinya gemerincing bagai hujan paku di
sekeliling tempatnya berdiri.
"Aku sudah tidak membutuhkan dan
menginginkannya lagi, ambil saja untukmu semua," tambah Kurt pada tukang
sapu. Sang tukang sapu tereharan-heran, "mungkinkah orang ini sudah gila? mungkinkah ada manusia di dunia yang
rela membuang semua yang sudah dikumpulkannya?" kata tukang sapu dalam
hatinya.
"Apa yang sebenarnya kau
inginkan?" akhirnya tukang sapu memberanikan diri untuk bertanya,
keningnya mengerut, tak bisa mengerti dengan semua ini.
"Kebahagiaan," jawab Kurt,
"betapa menyakitkan menyadari bahwa orang selalu mengira kita tak pernah
bersedih dan menderita, sementara kebahagiaan tak melulu bisa dibeli dengan
uang dan kekayaan." Kata Kurt, dia tampak sedih.
"Kalau begitu aku akan pergi. Sudah
tiba waktuku untuk melepas dan meninggalkan semuanya." tambahnya
"Kemana?" tanya tukang sapu.
"Aku akan pergi mencari
kebahagiaan. Ketempat yang jauh. Semoga aku menemukannya." Lalu Kurt
pergi, tukang sapu tadi terpaku menatap
punggung Kurt yang kian menjauh... Jauh... Jauh, dan pada akhirnya menghilang.
Melihat percakapan itu Rayya jadi tersentak,
dadanya bergetar, ada sesuatu yang entah apa namanya bagai gempa dahsyat yang
menggoncang hebat dadanya, menghentak kesadaran terdalamnya. Ternyata kebahagiaan
bukanlah tawa, juga bukan uang dan kekayaan. Lalu di mana aku harus mencari kebahagiaan? pertanyaan itu masih
menyala dalam hatinya bagai kunang-kunang yang terbang di tengah kegelapan
hatinya. Kalau begitu aku juga akan pergi jauh, lalu Rayya berjalan,
meninggalkan tukang sapu yang sedang memungut harta Kurt.
"Kamu mau kemana?" tanya
tukang sapu saat melihat Rayya berjalan.
Mendengar suara tukang sapu dari balik
punggungnya membuat langkahnya terhenti, ”Ketempat yang jauh. Aku akan pergi
mencari kebahagiaan," tanpa membalikkan badannya.
"Kemana?" tanya tukang sapu
lagi.
"Di sudut-sudut dunia, aku akan mencari
kebahagiaan dimana saja," kata Rayya dengan penuh keyakinan.
Satu-dua langkah, Rayya memulai
petualangannya mencari cahaya kebahagiaan, “aku
pasti dapat menemukanmu,” teguhnya dalam hati.
Dia terus berjalan mengelilingi dunia
mencari makna kebahahagiaan: katanya
kebahagiaan ada di gemerlapnya lampu kemewahan, ternyata tidak. Katanya
kebahagiaan ada di negara yang di sana menuhankan kebebasan, ternyata tidak.
Katanya kebahagiaan ada di cafe-cafe, di mal-mal, ternyata tidak. Katanya
kebahagiaan ada ketika bersama dengan orang-orang yang di cintai, namun ketika
orang yang dicintai mengecewainya, dia jadi tersadar ternayata itu juga tidak.
“Di
manakah aku bisa menemukan kebahagiaan
itu?” Rayya hampir putus asa mencari, dia lelah terus menerus berhadapan
dengan pencarian yang tak ada ujungnya, sudah berat rasa tungkai kakinya
melangkah.
Hingga suatu hari langkahnya terhenti di
sebuah negeri kecil yang berada di dataran tinggi di Asia Selatan, yang
berbatasan dengan Nepal dan Bangladesh. Buthan begitu nama negara kecil itu.
Sesampai di sana apa yang dia lihat
sungguh mengaggumkan: sebuah kehidupan yang jauh dari kemewahan, masayarakat
yang mengagungkan kebaikan, memekarkan senyuman, tempat ibadah selalu penuh,
tak ada discotik atau tempat hiburan
malam dan anehnya di sana tak ada kriminalitas: tak narkoba, pembunuhan, bunuh
diri dan kejahatan lainnya. Melihat keseharian jelas kebahagiaan selelu
terpancar di air muka mereka, mengalir sejuk dalam hati.
Setelah melihat itu, lalu Rayya berusaha
mencari tahu tentang negara Buthan. Ternyata negara kecil itu tercata sebagai
negara yang paling baghagia di dunia menurut menurut penilaian Gross National Happiness, suatu badan
yang mengukur kesejahteraan dan kebahagian masyarakatnya.
"Apa sebab?" Rayya terobsesi
mencaritahu lebih jauh tentang negara Buthan, rasa penasaran satu-persatu
menyeruak dalam hatinya, hingga membentuk gumpalan yang tak tertahankan. Dia
menjelajahi perpusatakaan di banyak tempat, membaca buku lebih banyak lagi,
membaca-baca artikel di internet, tapi sayang meski tak seribu kali sayang, dia
belum mendapatkan sebuah jawaban yang memuaskan.
Waktu terus berlau menyisakan pertanyaan
yang belum terpuaskan, akhirnya dia menemukan sebua buku yang berjudul A Field Guide to Happiness: What i Learned
in Buthan about living, loving and waking up karangan Linda Leaming. Di situ
dia menemukan fakta yang mencengangkan sekaligus asing baginya, sesuatu yang
lupa atau dilupakan dalam hidupnya bahwa sebenarnya dia juga akan mengalami
fase ini: kematian.
Lalu
apa hubungannya kematian dengan kebahagiaan?
Linda Leaming dalam bukunya menemukan rahasia kebahagiaan masyarakat Buthan
adalah dengan mengingat kematian, “ Saya menyadari, berpikir tentang
kematian tidak membuat orang tertekan. Itu justru membuat saya menikmati setiap
momen dan melihat hal-hal yang mungkin tak biasa saya lihat. Di negara Barat, kematian adalah sesuatu yang
menyedihkan. Sedangkan di Buthan, itu adalah bagian dari hidup yang pasti
mereka lalui,” tulis Linda Leaming dalam bukunya.
Tentang kematian, telah coba dibuktikan secara
ilmiah dalam suatu penelitian di University
of Kentcuky pada tahun 2007, pernah mengungkap korelasi antara mengingat
kematian dengan kehidupan yang bahagia. Hasilnya kematian suatu hal yang
mungkin dianggap mengerikan. Tetapi ketika orang-orang merenungkan hal itu,
otak kita akan otomatis akan mencari pikiran atau sesuatu yang bahagia.
Apa yang dilakukan oleh orang Buthan
dengan kematian? Nah ini, masyarakat Buthan setiap harinya meluangkan waktu
selama lima menit untuk merenungkan kematian diri mereka sebanyak lima kali
dalam sehari, dengan begitu membuat mereka menikmati hidup setiap detiknya. Ketika
ingin melakukan hal-hal yang tak baik mereka ingat dengan kematian. Kematian
seolah menjadi alarm hidup mereka. Kematian
telah menjadi sumber cahaya bagi kehidupan mereka, bahwa hidup terlalu sayang
untuk dihabiskan dengan melakukan hal-hal yang buruk, bahwa hidup bukan tentang
kesedihan yang berkepanjangan, bahwa hidup bukan tentang keterperukan yang tak
berkesudahan.
Hidup itu tentang perjalanan menuju
kehidupan yang lain, untuk menjalaninya, kita mesti harus bahagia sebab tak ada
pilihan lain kecuali kebahagiaan itu sendiri.
Lalu bagaimana caranya?
Baiklah, pejamkan matamu, lalu
hidupkanlah layar imajinasimu, sekarang bayangkanlah hari ini adalah hari terakhir
hidupmu, apa yang akan kamu lakukan? Tentu saja kita akan menjalani hari-hari
lebih bermakna, menjadikan setiap waktu menjadi momen terbaik dalam hidup kita,
tentu saja tak melakukan hal yang sia-sia sebab umur tak lagi panjang.
Sekarang bayangkanlah, dunia akan
berakhir satu hari lagi, dan semua orang tahu itu, apa yang akan kamu lihat?
Industri mendadak tutup, sebab untuk apa lagi memproduksi kalau barang sudah
tak ternilai lagi. Orang-orang kaya mengamburkan uangnya di jalanan sebab buat
apa semua itu kalau sudah tak lagi dibutuhkan.
Masjid-masjid, Vihara, gereja dan tempat
ibadah lainnya mendadak sesak, orang-orang memohon ampunan pada Tuhannya, menyesal
telah jarang menemuiNya. Lalu di sebuah Kota Kecil, orang-orang mendadak baik,
“ini untukmu,” seseorang menyerahkan
kunci milik mobilnya pada seorang pengemis yang ditemuinya di persimapangan
jalan, “aku sudah tak membutuhkannya
lagi, buat apa mobil mewah kalau umur kita tak panjang lagi,” sambungnya.
Si pengemis terheran, lalu menggelengkan kepalanya, “apakah kalian harus menunggu kematian dulu baru kalian mau berbagi?”
kata si Pengemis. Orang tadi menunduk menyesal dan menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak membutuhkan mobil ini, buat
apa saya mobil kalau umur sudah menjemput,” ujar pengemis tadi.
Kampus-kampus mendadak tutup, “buat apa kuliah demi masa depan yang tak
berumur panjang?” Pikir mereka. Mal-mal tetap buka tetapi orang-orag bebas
mengambil seluruh barang di dalamnya. Sebagian orang tertarik mendatangi mal
untuk mengambil sejumlah barang yang mereka inginkan sejak lama, tetapi
sebagian besar lebih tertarik mendatangi taman-taman dan tepian sungai. Mereka
mengahabiskan waktu untuk menikmati kebebesan.
Bayangkan satu jam lagi adalah siswa
waktumu? Apa yang akan kamu lakukan? Tentu saja setiap kita akan melakukan
hal-hal yang bermakna, menjadikan setiap momen lebih berarti, merayakan
kebebesan dengan cinta dan kasih sayang—sesuatu yang telah lama kita abaikan.
Di taman-taman, di tepi-tepi sungai, orang-orang berkumpul bersama-sama
keluarga merayakan cinta dan kebebasan.
Bayangkan saat ini tubuhmu terbujur kaku
di dalam keranda? Apa yang kamu lihat? Kulitmu yang membiru, hidungmu yang
tersumbat oleh kapas, lalu badanmu hanya di bungkus kain kafan, bibirmu
membiru, apa yang mau kita sombongkan jika pada akhirnya kecantikan dan
ketampanan yang kita agungkan selama ini pada akhirnya akan membeku kaku, kalah
pada kemutlakan.
Maka pelan-pelan bukalah matamu, lalu
rasakan sesuatu yang entah bagaimana bekerja dalam hatimu. Menjalar. Merambati
seluruh kapiler rasa di tubuh: Ngeri,
suram dan menakutkan.
Begitulah masyarakat Buthan mencari kebahagiaan mereka
melalui bayangan kematian, setelah merenungkan semuanya, mereka membuka pintu
kehidupan dengan tersenyum, lalu berjalan keluar menjalani momen-momen
kehidupan yang lebih bermakna dengan cahaya kebahagiaan: mencipta senyuman dan
kedamaian dalam hatinya.
***
Rayya duduk terpaku merenungkan hasil pencariannya disaat malam menyapa, mengeherani dirinya sendiri, bukankah ini sudah lama di
ajarkan dalam agamanya: maka cukuplah kematian menjadi nasehat terbaikmu.
Rumah Kata, 16 Juni 2015

Perasaan pernah baca cerita ini di tempat lain... 😮😮
BalasHapusIya ci, cerita ini sblum di blog bg posting di FB
Hapus