Aku tak tau harus memulai dari mana, tapi, biarlah, seperti
tanpa permulaan, sebab kadang kita tak harus memulainya dari awal kan? Bisa saja dari tengah, atau akhir
untuk kemudian dikonstruksi menjadi narasi yang utuh.
Seperti cerita ini—
Setelah lama saling menunggu, dengan sabar tentunya,
waktu akhirnya kembali mempertemukan kami di acara Indofood Leadership Camp
III. Bahagia? Tentu saja, ini sebuah kebahagian yang lama kami tunggu. Saat
bertemu kita jadi saling bertukar senyum paling bahagia, pegangan yang paling
erat dan pelukan yang paling hangat.
Aku menyebutnya sebagai pertemuan baru, eperti air
yang tanpa henti mengalir, kita tidak akan pernah bisa bertemu dengan keadaan
air yang sama. Selalu ada hal-hal yang baru kita temui: senyum yang baru, rupa
yang baru, semangat yang baru, dan harapan yang baru.
***
Kami kembali dipertemukan di Pusdiklat Indofood—tempat
yang akan menjadi “rumah” kami untuk beberapa hari. Saat sampai di sana, tak
seperti di AKMIL: tak ada bunyi terompet dan drum bergema,
tak ada barisan perwira memakai baju loreng bernyanyi sambil tepuk tangan
mengikuti rima musik--seolah menjadi pengiring setiap langkah kami. Biasa saja, kita di sambut oleh tim Officer yang
mula-mula menegangkan, melantangkan beberapa hal yang harus dipatuhi, tapi
setelah beberapa hari melewati bersama mereka, hari-hari kami menjadi lebih
indah, dihiasi pelangi senyuman, apalagi ada pelatih Haula: jilbabnya,
senyumnya, matanya, suaranya—membuat para lelaki pelatihan teduh dibuatnya.
Kami sudah tak lagi terkejut dengan bentakan,
hukuman atau hal-hal lain yang di luar kebiasaan sebagai mahasiswa: makan dalam
waktu 5 menit, mandi lebih cepat lagi, berlari dikejar waktu, ritual pelaporan,
tidur larut dan bangun lebih cepat. Tapi, tak apa-apa di sanalah kami ditempa
menjadi ksatria tangguh seperti BISMA. Barangkali juga tersebab kita sudah
terbiasa hal-hal yang beginian di AKMIL dulu—kita menjadi lebih menikmatinya.
Tak lama kemudian, kami langsung di bawa ke tempat penginapan—villa,
“oh amboi” suara di balik kamar terdengar girang—bahagia bukan kepalang, kami
mendapati sebuah ruangan yang lapang sekaligus bersih, lebih tepatnya mewah
untuk standar mahasiswa, seperti di hotel-hotel: kasur empuk yang dibalut kain
serba putih, di depannya terpajang sebuah TV di dinding, tak jauh ada kamar
mandi dengan shower yang bisa disulap menjadi hangat atau dingin.
Setelah keluar dari kamar, aku melihat banyak yang
tersenyum, aku mulai menduga-duga, barangkali sebagaian dari peserta yang
laki-laki mulai membayangkan betapa bahagianya menghempaskan badan di tempat
tidur, setelah mengikuti pelatihan seharian: perlahan mereka membuka baju
sambil tersenyum bahagia, lalu merebahkan badan di tempat tidur, menghidupkan
TV untuk waktu yang tidak lama sambil sesekali menyeruput kopi panas.
Malam Pertama...
Langit dipaksa menghitamkan diri oleh sisa hujan
yang masih meninggalkan awan pekat, seperti tak memberi ruang untuk bintang dan
bulan mengintip isi bumi. Karena, sisa hujan sore masih membekas, meniupkan
udara yang dingin sampai dini hari. Sementara jangkrik tak henti saling bersahutan.
Ternyata malam pertama tak selalu menjadi awal yang
indah, sebab bayang-bayang kasur empuk, TV yang menyala, dan kopi yang menebar
aroma, perlahan menghilang dari bayangan disebabkan ada yang mendapatkan
hukuman tidak boleh tidur di dalam villa dikarenakan di kutuk menjadi tengkorak.
Akhirnya kami melewati malam pertama
yang menyiksa sekaligus membahagiakan: tidur di atas lantai tanpa alas apa-apa,
tajamnya angin malam bukit cibodas menyelusup ke dalam pori-pori, menelusuuri
darah kami, yang sesekali juga menusuk-tusuk tulang kami, lalu perlahan mendesir gamang pada persendian
tulang—menggigil. Tapi tak apa-apa, di sanalah kami merasakan bahwa dinginnya
malam benar-benar menjadi tak apa-apa, di sanalah kami menemukan kehangatan
oleh selimut kebersamaan—tertawa dan berbagi bersama.
Hari kedua, ketiga, dam keempat seperti biasa, kita
lebih banyak mengendapkan diri di dalam ruangan, mendengarkan materi dengan khusyuk,
sambil sesekali menahan mata yang memberat untuk menutup tersebab rasa kantuk
yang merayu. Dan semuanya masih baik-baik saja.
Selama pelatihan
ada dua hal yang paling kita takuti: menjadi makhluk yang biasa-biasa saja atau
di kutuk menjadi tengkorak. Dan satu hal yang paling di harapkan: jadi Bintang.
Hari terus berganti, menit terus berputar, sedangkan
detik berlari seperti tak punya perasaan, waktu seringkali menghianti persepsi-kesadaran,
waktu yang secara teknis matematis seharusnya lama seringkali dalam persepsi
kesadaran berlalu cepat begitu saja, tanpa terasa dalam sekejap kami telah
sampai di hari keempat.
Di hari keempat inilah barangkali menjadi titik lain
dalam perjalanan kami, sebuah momen dramatis dan tragis yang tercatat di
lembaran ingatan kami—tak terlupakan. Inilah waktu di mana kami menjadi manusia
seperti tak merasa apa-apa: tak punya rasa malu, tak punya rasa takut, tak
punya perasaan.
Saat itu, matahari hari pagi mulai menyirami
pucuk-pucuk bukit dengan cahayanya yang agak redup sebab pagi itu mendung.
Sementara di bagian lain orang-orang sudah mulai menemukan ritme pagi
minggunya: seorang ibu mulai membersihkan tanaman hiasannya, nenek tua mengarak
gerobak dagannya, ibu muda menggantung cuciannya. Di bagian lain, pasar cipanas
mulai riuh di padati jejeran pedagang.
Lalu di sebuah villa bernama Pusdiklat Indofood, segerombalan
mahasiswa memakai baju putih bertuliskan “time
to change: siapa yang tidak mau berubah pasti akan terpuruk” bagai mantra
ajaib yang dibawa kemana-mana, menyemut membentuk barisan, kemudian memecah
membentuk barisan perkelompok, tak lama melebur menjadi dua atau tiga orang,
hanya satu tujuannya: berjalan disudut-sudut jalan menemui rezeki yang entah
bersembunyi dimana untuk memenuhi kebutuhan. Mereka memliki tujuan untuk
mengumpulkan uang sebanyak 18 juta dalam 10 jam: itulah kami, peserta Indofood
Leadership Camp III yang menjalani kegiatan positive
fighter.
Setalah dilepas oleh pelatih, kami memulai
menghitung langkah menjemput rezki. Ya, di sana, di sana, di tempat yang entah
berantah, barangkali ada sesuatu yang bisa kami jual, ada sesuatu yang bisa
kami lakukan.
Satu jam perlajanan telah di lewati, peluh mulai
menerjuni tebing pipi kami namun belum satu rupiahpun singgah di saku kami.
Kami memulai membelok langkah, merubah cara berusaha: ada yang berkeliling
menjual air minum, membersihkan masjid, menyapu lingkungan gereja, mencuci
piring, ngamen dan banyak lainnya, setiap kita punya cara yang berbeda.
Demikianlah positive
fighter yang kami lakukan, ada banyak hal yang tak bisa di wakilkan dengan
kata-kata: berjalan jauh, kita di tolak dengan macam cara, dipandang sinis, diacuhkan,
yang terkadang menyakitkan, tapi di sinilah kami belajar untuk melenyapkan rasa
takut, membuang kegengsian, menghilangkan kekhawatiran.
Selepas mencari uang, kami lalu pulang, kembali berkumpul
untuk menghitung hasil jerih payah: 10 ribu, 50 ribu, 700 ribu, 1 juta, 3 juta,
5 juta, 7 juta, semua kelompok sudah menghitung dan kami berhenti di angka di
Rp. 8.400.000, mendapati angka itu seketika membat kami berteriak, melepaskan
semua rasa, senangnya bukan kepalang, akhirnya kami bisa mencatat rekor baru
sebagai batch yang paling banyak mendapatkan uang, tapi tunggu dulu, kami baru
tahu ternyata masih ada beberapa teman yang belum kunjung pulang, entah mereka
tersesat atau lupa jalan pulang, entahlah, kami hanya bisa berharap semua akan
baik-baik saja, lalu berharap deretan angka panjang yang mereka bawa.
3 menit, 10 menit, 15 menit, sesekali mata kami
tertuju pada pintu masuk, baju putih mereka belum juga nampak, belum ada
tanda-tanda kedatangan mereka. Tak lama kemudian, selepas makan malam, mereka
tiba-tiba muncul di balik pintu, lalu mendengar kabar uangnya bertambah menjadi
9 juta lebih, seketika mereka yang telat di sambut bak pahlawan.
Dan barangkali untuk kali pertama kami bisa
beristirahat dengan puas, melepaskan lelah yang hinggap di badan.
Keesakon harinya, di hari kelima, kami segera
bergerak untuk melakukan pengabdian masyarakat dalam materi social activity : Penerapan Technology for Indonesia dan Social Entrepreneur di Masyarakat
Cibodas.
Ada yang melakukan penyuluhan pemilahan sampah,
saung cimedu, pengelolaan sampah terpadu dan cemara mini cibodas. Ketika kami
melihat tawa anak-anak, senyum ibu-ibu terurai saat melihat pertunjukkan drama
komedi yang kami tampilkan saat penyuluhan, di saat uang yang kami kumpulkan meninggalkan
jejak kebermanfaatan: disanalah kita
merasakan kebahagiaan orang lain menjadi cahaya bagi kebahagian kita.
Dan kita jadi tersadar,
ternyata kebahagiaan tak semakna dengan uang, barang mewah, kasur empuk atau
rumah bertingkat. Kita mungkin tak memilikinya, tetapi tak berarti kita tak
memiliki kebahagiaan.
Hari demi hari kami lalui, menit tak henti mengelilingi
angka yang terkungkung di balik arloji, detik pada akhirnya mengantarkan kami
pada hari terakhir, waktunya untuk pulang.
Saat berpisah, langkah tak lagi berat seperti di
AKMIL, aku juga tahu kenapa, yang jelas langkah kita terasa ringan untuk pergi,
juga tak ada air mata, yang ada adalah sebuah perpisahan termanis: tangan kita
bertemu, senyum kita terurai, “selamat jalan, tetap semangat ya,” kata kita.
Dan lambaian tangan perlahan memisahkan kita—untuk tidak mengatakan berakhir.
Akhirnya kami harus pergi untuk kembali di sepenggal
kisah kehidupan lainya--pulang untuk melanjutkan langkah yang lain.
***
Begitulah,
sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Tentu saja ada banyak hal yang
didapatkan dari pelatihan Indofood Leadership Camp III dalam mempersiapkan kami
menjadi pemimpin masa depan.
***
Untuk semua ini, tulisan ini bukan untuk melahirkan
udara melankoli, anggap saja ini sebagi pertanda bahwa kita pernah bersama
melalui hari bersama—menjadikan sepenggal hidup kita lebih berwarna—indah.
Jadikanlah ini titik-titik momentum yang kita lalui bersama—menjadi
semacam kenangan yang kita tempatkan di ruang ingatan yang kita rancang sendiri
yang kapanpun kita bisa mengunjunginya atau hanya sekedar mengintip senyuman
kita bersama.
Aku selalu berharap kita bisa bertemu dilain waktu
dengan keadaaan kita yang berbeda. Tapi, aku tak pernah berharap bertemu dengan
Ernest, Rifal, Josua, dan lainnya benar-benar menjadi gank bici-bici, yang dengan
lembut saat memasuki ruangan mengatakan “bissmmmaaaahhhh” ..hehehe :-)
***
Aku barangkali juga kalian merasakan sebuah kekuatan
dahsyat yang mendorong kita keluar dari titik aman, sebuah titik yang merubah
sebagian dari diri kita, aku menyebutnya sebagai titik balik, sebuah titik yang
merubah segalanya.
***
Terakhir, dengan gaya pelaih Putut, mata yang
menyala, senyum yang terurai, jempol yang terangkat, “kalian kreeen guys”. :-)
Rumah Kata, 05 Mei 2015

keren yud :). cuma ada beberapa hal yang menarik yang tidak kamu maskin yud, padahal itu juga bisa mendukung tulisanmu menjadi lebih keren.. heheh
BalasHapusbut atleast this is good brada!!
Oh ya, apa aja tu seng??
Hapussharelah..
Waaa. Inspiratif bang. Jadi pengen :p
BalasHapusHeheh... lagi blajr ci. Jadi pengen apa?
HapusTulisannya menarik, pelatih, hoho dan karena pernah mengalami jdi membayangkan tiap scenenya sambil tersenyum. Rindu.Ditunggu tulisan baru yg ditulis dari sudut pandang pelatih :D terutama ttg kelompok P jgn dilupain ya pelatih..wkwk
BalasHapusTerimakasih Ratifa sudah mampir di rumah kata saya. Insha Allah ya... :-)
Hapus